Kamis, September 16

Mengenal Hakim Sanai:Penyair Sufi yang Memberi Pengaruh pada Rumi

Di Indonesia, nama Hakim Sanai barangkali tidak sepopuler Rumi maupun Athar. Tapi siapa sangka ia begitu kuat memberikan pengaruh pada dua tokoh besar ini. Di kalangan sastrawan Persia, Sanai dikenal sebagai bapak penyair sufistik. Meski sebelumnya telah banyak sufi yang melantunkan pujian kepada Tuhan dengan syair, namun Sanailah yang pertama kali memberikan kerangka dan warna sufistik dalam syair-syair Persia. Jika qasidah, matsnawi, dan ghazal hari ini menemukan bentuknya, salah satunya karena peran Sanai.

Hakim Sanai yang memiliki nama lengkap Abul-Majid Majdud bin Adam Ghaznavi lahir di bulan Ordibehest pada penanggalan Persia atau sekitar bulan Mei tahun 1080 Masehi di kota Ghazni, sebuah kawasan di timur Afganistan yang pernah menjadi pusat peradaban Islam. Hari ini jasad Sanai bersama segala kejayaan dinasti Ghaznavi terkubur dalam kota yang senyap, bahkan nyaris tak terdengar dalam pusaran sejarah.

Pada tahun 2013, pernah ada upaya untuk mengangkat kembali kota Ghazni sebagai ibu kota budaya dunia Islam, namun tampaknya tak terlalu berhasil. Tempat dulu Sanai melahirkan syair-syair romantis dan religi, kini seolah tertidur dan berselimut debu. Sementara syair-syair Sanai menjadi kajian serius di pusat-pusat kebudayaan Iran hingga bergema ke jantung Eropa dan Amerika. Bahkan, bait-bait puisinya menjadi penutup Film “The Shape of Water” besutan Guillermo Del Taro yang berhasil menyabet empat piala Oscar tahun 2018. 

Unable to perceive the shape of You, 

I find You all around me.

Your presence fills my eyes with Your love, 

It humbles my heart, For You are everywhere.

Aku tak dapat mencerap wujud-Mu,

Namun aku menemukan-Mu di sekelilingku.

Kehadiran-Mu memenuhi mataku dengan cinta,

Hatiku merendah mengetahui Engkau ada di semua tempat

Banyak penonton yang dibuat penasaran dengan sumber asli kutipan puisi tersebut. Laman The Library of Congress sampai ikut sibuk melacak asal muasal puisi ini. Dari pengakuan Del Toro, puisi tersebut dikutip dari sebuah buku kumpulan puisi Islam, berupa surat cinta seorang penyair klasik kepada Tuhannya. Awalnya, banyak yang menduga puisi ini ditulis oleh Rumi, sampai akhirnya laman tersebut memastikan puisi bernuansa sufistik itu diadaptasi dari syair Sanai dalam buku The Book of Everything: Journey of the Heart’s Desire: Hakim Sanai’s Walled Garden of Truth.

Wajar jika ada yang mengira syair di atas milik Rumi, karena syair Sanai begitu memengaruhi Rumi, sebagaimana diakui sendiri oleh Rumi dalam Matsnawi Maknawi jilid 3, bait 3749-3750: “Jika ada penjelasan yang tak kau pahami, merujuklah pada Hakim Sanai. Sufi kebanggan itu akan mendedahnya dalam kitab Ilahinameh”. Selain Rumi, Sanai juga menggerakkan banyak penyair setelahnya. Dalam model qasidah, syairnya menginsiprasi Khaqani. Sedangkan ghazal cinta Sanai diikuti oleh penyair progresif semisal Saadi dan Hafez. 

Seperti banyak sufi lainnya, Hakim Sanai juga pernah mengalami pergulatan besar dalam hidupnya. Sanai muda adalah seorang penyair istana yang menulis dan melantunkan banyak puisi untuk keperluan acara raja Masud bin Ibrahim Ghaznavi dan Bahramshah bin Masud. Ia mengalami transformasi besar setelah melakukan perjalanan ke berbagai kota di Khorasan, yang saat itu menjadi pusat tasawuf terbesar di dunia. Sanai juga singgah di Nishabur, kota yang ditakdirkan menjadi pertemuan Athar dan Rumi. Ia kembali ke kampung halamnnya dengan wajah berbeda. 

Ada banyak cerita mengapa Sanai akhirnya memilih menjadi pejalan dan meninggalkan segala kemapanan hidup yang lama telah dirintisnya. Salah satu versi yang cukup kuat adalah sindiran yang ia peroleh di salah satu pesta raja. Suatu hari raja mengadakan pesta dan dituangkanlah berbagai minuman yang menyegarkan. Sanai juga hadir dalam pesta itu untuk melantunkan syair pujian bagi sang raja. 

Di tengah pesta tersebut, terjadi percakapan antara dua pelayan. Orang pertama berkata: “Tuangkan minuman itu untuk Sanai”. Temannya segera menjawab “Jangan, Sanai orang yang lembut hatinya”. Orang pertama kembali menyahut: “Kalau dia memang berhati lembut, tidak selayknya menjadi penyair istana”. Ketika mendengar dialog tersebut, hati Sanai sangat tergerak dan bertekad memulai hidup baru. Kelak ia memilih menjaga jarak dengan istana dan berpihak kepada rakyat.

Hakim Sanai memiliki lebih dari sepuluh buku, salah satu karya yang cukup dikenal adalah Hadiqah al-Hakikat yang diterjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul “The Walled Garden of Truth”. Buku ini memuat sepuluh ribu bait matsnawi dengan tema ketuhanan, kenabian, akal, ilmu, hikmah, dan cinta. Kandungan cerita dalam buku ini banyak dipengaruhi karya-karya tasawuf sebelumnya, seperti kitab Kimia Saadat, Ihya Ulumuddin, dan Nashihatul Mulk yang ditulis oleh Imam Ghazali.

Adapaun karya Sanai yang berbentuk qasidah dan ghazal dihimpun dalam kitab Divan-e Sanai. Tema-tema dalam kitab ini cukup beragam, dari mulai pujian kepada Tuhan hinga tema-tema kemanusiaan. Setelah menjadi sufi dan penyair independen, Sanai hidup di tengah rakyat jelata dan setiap hari memotret kehidupan masyarakat kelas bawah yang dulu tak pernah ia saksikan. Kegelisahan melihat berbagai kesenjangan sosial ini, acapkali ia tuangkan dalam bait-bait syair. Hakim Sanai sang penyair istana, dengan makrifat yang ia peroleh, kini menjadi pembela kaum papa.

Tetanggamu menahan lapar dua hari tiga malam

Sementara kau penuhi perutmu dengan kuaci dan manisan

Bukalah pikiranmu dan tengoklah mata hatimu

Bantulah kaum papa dan sayangailah sesamamu

(Divan-e Sanai, Qasidah 189)

Karpet yang kau injak terbuat dari sutra nan lembut

Padahal tetanggamu yang janda tangannya melepuh

Ia sepanjang malam menahan perut lapar

Sementara perut buncitmu kau puaskan dengan makanan lezat

(Divan-e Sanai, Qasidah 173)

(Ditulis Afifah Ahmad dan pernah dimuat di situs Alif.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *