Kamis, September 16

Review Ngaji Rumi oleh Budhy Munawar Rachman

Judul Buku: Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-ayat Sufistik

Penulis: Afifah Ahmad

Penerbit: Afkaruna, April 2021

Tebal: 228 halaman

Hari ini saya membaca lagi Rumi. Saya membaca buku barunya Afifah Ahmad,  yang keren, yakni “Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik”. Setelah mengajar 3 semester dalam kelas yang berbeda-beda tentang filsafat Rumi di STF Driyarkara dan STFT Jakarta, saya semakin yakin, Rumi bisa menjadi guru spiritual dalam menjalani dan memaknai hari-hari kehidupan kita.

Maulana Jalaluddin Rumi dikenal sebagai seorang pujangga cinta. Rumi adalah salah satu tokoh yang sangat populer di dunia Islam. Melalui puisi dan syair dia mengungkapkan dengan segala kekaguman diri akan hakikat cinta. Syair dan puisinya dapat menghangatkan hati yang terluka, menghembuskan perasaan yang rindu kepada sang yang dicintai. Cinta adalah obat yang paling mujarab bagi segala penyakit jiwa. Walaupun kini ia sudah tidak ada tetapi syair dan puisi cintanya sangat melekat di hati dan sanubari sang pencari cinta.

Mengikuti jalan Cinta memang tidaklah mudah. Terkadang berbelok di sebuah jalan yang seolah salah dalam pandangan manusia. Tapi, tentu tidak dalam pandangan penuh kasih Tuhan. Perjalanan hidup Rumi sama saja dengan perjalanan imannya, perjalanan spiritual, perjalanannya mencari Allah.

Perjalanan Spritual ini sangat rumit, sebab bagaimana mungkin mencapai puncak dengan turun dari puncak? Salah satu pujian di mana Rumi, mencoba menemukan apa cinta itu, dimulai dengan pernyataan, “Duhai Cinta, siapa yang bentuknya lebih indah, Engkau atau tanaman dan kebun apelmu?” Dan syair itu dilanjutkan dalam irama yang menari-nari, menuturkan tindakan-tindakan cinta yang luar biasa, yang mendorong setiap atom dan pepohonan menari-nari dan mengubah segalanya.

Rumi tidak hanya sekadar simbol cinta. Tapi Rumi adalah cinta itu sendiri. Bait-bait puisi yang digubahnya, yang memiliki energi bagi kehidupan dan kemanusiaan, menjadikannya sebagai sosok sufi-penyair terbesar sepanjang sejarah yang jasa-jasanya melebihi segala pujian. Ajaran-ajaran cinta Rumi hingga kini dikaji di berbagai belahan penjuru dunia. Bait-bait cinta dan mutiara-mutiara kearifan yang tertuang dalam Matsnawi, seperti sebuah lautan yang tidak berpantai. Lewat karya agung yang ditulisnya itu, Rumi seolah ingin mengabarkan sekaligus menebarkan mutiara-mutiara hidup yang kilaunya mengalahkan pesona dunia.

Jalan Pembebasan bagi Perempuan

Inilah yang saya rasakan ketika membaca bait-bait syair cinta sufistik Rumi  karya Afifah Ahmad, yakni “Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik”. Buku ini terdiri dari enam bab: Konsep Cinta dan Manusia; Perempuan dan Kesetaraan; Etika Sosial, Toleransi dan Perdamaian; Beribadah dengan Bahagia; Rumi dan Karya-Karya yang Membersamainya; dan Album Puisi Rumi. Afifah dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami, menceritakan syair-syair Rumi yang diterjemahkannya langsung dari bahasa Persia, memberitahukan maknanya (dengan ber-sanad pada buku-buku terkemuka soal Rumi), kemudian menunjukkan relevansinya pada berbagai fenomena aktual.

Cinta sebagaimana digambarkan Rumi dalam buku ini menjadi jalan pembebasan bagi perempuan. Perempuan adalah pantulan cahaya Illahi, bukan hanya yang dicintai. Tidak, konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan pencipta.

Afifah Ahmad menjelaskan bahwa para pengkaji Rumi menyebut inilah puisi yang menggambarkan puncak tertinggi penghormatan Rumi kepada perempuan. Meski diksi-diksi yang digunakan Rumi terkesan hiperbolis, seperti diksi “Kholiq”, tentu Rumi tak bermaksud membuat sekutu Tuhan. Rumi hanya sedang melihat begitu pentingnya posisi perempuan dalam semesta, yaitu menjadi perantara kehadiran manusia (h. 61)

Tentang perempuan, tepat kiranya bait Rumi (h. 65)

Nabi pernah berpesan: Perempuan akan berjaya (mulia) di hadapan lelaki cerdas. Sebaliknya, lelaki pandir akan mendominasi perempuan dengan watak dogma

Menurut Afifah, dalam bait di atas Rumi menjelaskan sebuah potongan riwayat tentang perbedaan lelaki cerdas dan pandir dari bagaimana mereka memposisikan perempuan. Para lelaki keren akan memberikan kesempatan dan ruang kepada para perempuan di sekitarnya, terutama pasangan untuk terus bertumbuh, melakukan me time, dan mencerdaskan diri. Sebaliknya, lelaki terbelakang hanya melihat pasangannya sebagai barang kepemilikan, ia berhak mendominasinya.

Jalaluddin Rumi suka berbincang-bincang dengan cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa cinta itu:

Suatu malam kutanya cinta:

“Katakan, siapa sesungguhnya dirimu?

Katanya: “Aku ini kehidupan abadi,

aku memperbanyak kehidupan indah itu”

Kataku: “Duhai yang di luar tempat,

di manakah rumahmu?”

Katanya: “Aku ini bersama api hati,

dan di luar mata yang basah,

Aku ini tukang cat; karena akulah setiap pipi berubah jadi berwarna kuning.

Akulah utusan yang ringan kaki,

sedangkan pencinta adalah kuda kurusku.

Akulah merah padamnya bunga tulip.

harganya barang itu,

Akulah manisnya meratap, penyibak segala yang tertabiri….”

Ciptaan Tuhan Pertama adalah Cinta

Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Dari sinilah Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggungjawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia. Menurut

Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang.

Seperti dijelaskan dalam karyanya, Cinta adalah samudra (tak bertepi) tetapi langit menjadi sekedar, Serpihan-serpihan busa; (mereka kacau balau) bagaikan perasaan Zulaikha yang menghasrati Yusuf. Ketahuilah bahwa langit yang berputar, bergerak oleh deburan gelombang cinta; seandainya bukan karena cinta, dunia akan (mati) membeku.

Bagaimana benda mati lenyap (karena perubahan) menjadi tumbuhan? Bagaimana tumbuhan mengorbankan dirinya demi menjadi jiwa (yang hidup)? Bagaimana jiwa mengorbankan dirinya demi Nafas yang merasuk ke dalam diri Maryam yang sedang hamil? Masing-masing (dari mereka) akan menjadi diam dan mengeras bagaikan es bagaimana mungkin mereka terbang dan mencari seperti belalang? Setiap manik-manik adalah cinta dengan Kesempurnaannya dan segera menjulang seperti pohon.

Cinta menurut Rumi, bukan hanya milik manusia dan makhluk hidup lainnya tapi juga semesta. Cinta yang mendasari semua eksistensi ini disebut “cinta universal”. Cinta ini muncul pertama kali ketika Tuhan mengungkapkan keindahan-Nya kepada semesta yang masih dalam alam potensial. Keindahan cinta tidak dapat diungkapkan dengan cara apapun, meskipun kita memujinya dengan seratus lidah.

Begitulah kata Maulana Rumi, seorang pecinta dapat berkelana dalam cinta, dan semakin jauh pecinta melangkah, semakin besar pula kebahagiaan yang akan diperolehnya. Karena cinta itu tak terbatas Ilahiah dan lebih besar dibanding seribu kebangkitan. Kebangkitan itu merupakan sesuatu yang terbatas, sedangkan cinta tak terbatas.

Rumi tumbuh besar menjadi sesosok pencinta di jalan keilahian. Rumi juga mengembara dari kota ke kota, ke berbagai penjuru negeri, mengajarkan rahasia cinta Ilahi.  Jiwa Rumi adalah cinta. Napas Rumi adalah cinta. Lebih dari 34.662 bait syair yang telah ditulis Rumi untuk mengabarkan rahasia cinta, untuk menjelaskan bahwa aspek terpenting dari ajaran agama adalah cinta. Itulah sebabnya, puisi-puisi yang ditulis Rumi ibarat taman-taman

berbunga yang tidak saja indah dipandang, tapi juga mendamaikan hati siapa saja yang datang memetiknya.

Refleksi Menangkap Pengalaman Batin

Membaca puisi-puisi Rumi, seperti membaca kitab cinta. Cinta yang menembus ruang dan waktu, cinta yang melampaui dunia dan seisinya, cinta yang menyentuh langit. Puisi-puisinya berbicara tentang cinta pada Tuhan, cinta pada semesta, cinta pada sesama manusia. Puisi-Puisi Rumi, merupakan refleksi dari bagaimana menangkap pengalaman batin dari berbagai peristiwa dan kejadian yang menghasilkan sebuah kegelisahan.

Kegelisahan tentang pertanyaan kehadiran Tuhan di halaman hati kita, kegelisahan tentang rasa cinta pada Tuhan, semesta, dan manusia yang diolah dalam sebuah proses kreatif, direnungkan secara mendalam dan digabungkan dengan nilai-nilai transendental sehingga menjadi Puisi-puisi cinta yang menyentuh jiwa pembacanya.

Baca Juga: Titik Temu Pemikiran Muhammad Saw dan Karl Marx

Puisi–puisi Rumi ini juga bisa menjadi sebuah fungsi dari hasil pengamatan dari sebuah waktu sejarah yang dilalui oleh sang penyair, ada yang luput tak terjamah sejarah, di sini mungkin puisi dengan getir dan haru mencatatnya, dengan sebuah bahasa yang bisa menjadi indah. Tentunya

pembaca puisi dalam membaca pesan moral dalam puisi, juga dituntut untuk punya kreatifitas yang bisa membawanya menguak makna dari kata-kata yang disajikan penyair.

Dengan gaya ungkap yang liris, Rumi mentransformasikan antara “kegelisahan jiwa” penyair dengan “kesadaran penyair itu sendiri. Puisi-Puisinya juga seakan sebuah percakapan antara “nurani” dan “realitas yang harus dihadapi”. Di mana segala hal ihwal hidup ada di kedalaman hati nurani. Rumi mengajak kita semua untuk selalu berkaca pada hati nurani, karena di situlah diri sejati kita berada, segala kehidupan yang sebenarnya bermula. Bukan kehidupan yang penuh kepura-puraan.

Rumi tidak hanya sekadar simbol cinta. Tapi Rumi adalah cinta itu sendiri. Bait-bait puisi yang digubahnya, yang memiliki energi bagi kehidupan dan kemanusiaan, menjadikannya sebagai sosok sufi-penyair terbesar sepanjang sejarah yang jasa-jasanya melebihi segala pujian. Ajaran-ajaran cinta Rumi hingga kini dikaji di berbagai belahan penjuru dunia. Bait-bait cinta dan mutiara-mutiara kearifan yang tertuang dalam Matsnawi, seperti sebuah lautan yang tidak berpantai. Lewat karya agung yang ditulisnya itu, Rumi seolah ingin mengabarkan sekaligus menebarkan mutiara-mutiara hidup yang kilaunya mengalahkan pesona dunia.

Cinta bisa tampil sebagai kekuatan feminim, sebab ia adalah ibu yang melahirkan umat manusia. Cinta adalah Maryam praabadi, yang mengandung berkat ruh suci, seorang ibu yang merawat anaknya dengan lembut. Cinta adalah anggur dan sekaligus pelayan minuman, dan minumannya racun sekaligus obat penawar. Ia adalah anggur keras dan membawa manusia ke keabadian. Akibat anggur seperti itu,” setiap orang merasa kepanasan sehingga pakaiannya tampak terlalu ketat dan kemudian dia melepaskan penutup kepalanya dan membuka ikat pinggangnya”. Pecinta terisi anggur cinta, bahkan pecinta menjadi botol atau piala cinta itu sendiri.

Penyair Besar dan Tokoh Sufi

Demikianlah. Membincang Rumi tanpa menyebut kata cinta adalah kemustahilan. Seperti kita berbicara kehidupan tanpa memperhitungkan unsur air dan udara. Rumi dan cinta, dua hal yang selalu melekat. Bahkan, dalam ranah mistisme, Rumi dikenal sebagai pendiri tariqat mazhab cinta. Dunia mengenal Rumi bukanlah sekadar seorang penyair besar.

Ia juga adalah tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun 1648 M.

Buku yang ditulis oleh Afifah Ahmad ini sarat pengetahuan spiritual dan intelektual dari seorang tokoh besar dunia yang melegenda, Maulana Jalaluddin Rumi. Afifah Ahmad termasuk sedikit perempuan Indonesia yang mampu menulis tentang Rumi dalam bahasa indonesia dengan baik dan menawan. Perspektifnyanya begitu progresif dan penuh nuansa spiritual yang tangguh.

Haidar Bagir, tentang buku ini, mengatakan, “Inilah buku yang pas sekaligus memikat. Dengan membaca buku ini kita dapat menikmati keindahan syair-syair Rumi senyampang minum dari sumber air jernih kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup yang diajarkan penyair sufi ini.”

Ngaji Rumi berisi keindahan cinta dan kemanusiaan berikut dimensi-dimensinya. Juga menambang pikiran Rumi tentang perempuan dan kesetaraan gender. Kita juga diajak berselancar ke dalam kitab

utama dalam kajian rumi. Kemampuan penulis menyelami karya-karya dan pemikiran Rumi dalam bahasa Persia serta akses terhadap sumber primer dari para sarjana Persia, menjadikan buku ini sebagai karya penting dan muktabar tentang Rumi dalam bahasa Indonesia.

Sekali lagi, Afifah Ahmad, melalui buku setebal 224 halaman yang ditulisnya, telah menghadirkan kembali cinta Rumi sebagai jalan untuk membebaskan perempuan dari segala bentuk penindasan.

Sebagaimana kalimat yang berulangkali KH Husein Muhammad sampaikan dalam banyak kesempatan. Bahwa perempuan adalah ibu manusia. Dari tubuhnya semua manusia dilahirkan, dan perempuan adalah basis dari peradaban dunia. penghormatan kita terhadapnya, adalah penghormatan terhadap diri kita sendiri, dan merendahkan perempuan, adalah merendahkan terhadap diri sendiri.

Sumber: https://kabardamai.id/membaca-lagi-rumi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *