Senin, Januari 17

Review Ngaji Rumi: Perempuan dan Tuhan yang tak Lagi Berjarak

Dokumentasi Pribadi Maria Fauzi

Ramadhan ini saya sedang berniat mengkhatamkan beberapa buku. Sebagian sudah khatam, sebagian yang lain masih otewe. Eh tapi jangan terlalu berbaik sangka dulu,  saya juga sedang mengkhatamkan Vincenzo. Apalagi kalo nontonnya siang² gitu, adem rasanya hehehe…

Syukurlah, di penghujung Ramadhan ini saya bisa mengkhatamkan tiga buku, salah satunya adalah catatan tentang sufi agung yang namanya melalang buana di seluruh penjuru dunia, Jalaluddin Rumi. 

Rumi memanglah populer, namanya menjadi perbincangan masyarakat dunia tak lekang identitas, baik di masyarakat Barat (Amerika, Eropa dan sekitarnya) dan juga di Timur. 

Membicarakan syair syair Rumi adalah membicarakan tentang konsep tunggalnya, tentang cinta. Bukan, bukan hanya cinta kepada manusia, melainkan cinta kepada seluruh entitas kehidupan sebagai pancaran dari hikmah Tuhan. Karena sejatinya hakekat Tuhan terejawantahkan pada setiap makhluk-Nya.

Buku ini ditulis oleh mbak Afifah Ahmad  penulis perempuan panutan saya. Syair-syair Rumi diurai begitu apik, dengan menggabungkan beberapa perspektif modern yang relevan. Syair-syair Rumi diajak untuk berkelana hingga menemukan konteksnya. Ia tak lagi berupa rangkaian kata-kata yang ada di dalam teks² bisu, namun ia bergerak melintasi batas-batas spiritualitas. 

Di awal catatan, Mbak Afifah membawa pembacanya untuk terlebih dahulu menelusuri konsep utama yang hendak disampaikan Rumi, yaitu tentang cinta dan manusia. 

Barulah kemudian pembaca diajak untuk lebih luas lagi memahami bait demi bait syair Rumi yang juga membicarakan kesetaraan perempuan, teosofi kesetaraan, etika sosial, perdamaian, hingga perjalanan spiritual Rumi bersama karya-karya sufi lainnya dalam perjalanan sufistiknya. 

Siyaha dalam Tradisi Sufi

Saya membayangkan perjalanan penulis dalam merangkai buku ini sungguhlah bermakna spiritual. Saya senang menyebutnya dengan istilah siyaha. 

Mbak Afifah menulis catatan ini di bumi Persia. Tak ayal kemampuannya membaca bahasa Persia menjadi satu kekuatan penting, di mana ia bisa langsung merujuk kepada sumber primer yg tak lagi perlu perantara. 

Siyaha dalam tradisi sufi bisa diartikan sebagai suatu perjalanan spiritual, perjalanan yang dilakukan dengan berguru, mencari hakekat kehidupan, hakekat Tuhan melalui pergerakan² batin yang sangat intim. 

Siyāha biasa dilakukan dengan pengembaraan ke berbagai wilayah yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan. Praktek ini dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan perjalanan spiritualitas bagi para salik untuk mencapai derajat tertentu. 

Siyaha yang dilakukan penulis  mengingatkan saya akan tradisi siyaha yg juga banyak dilakukan oleh sufi sufi perempuan dahulu. Dan sekarang saya menemukannya dalam profil mbak Afifah yang selalu haus akan pengetahuan² baru khususnya dalam memahami perjalanan spiritual. 

Salah satu sufi perempuan yang gemar melakukan siyaha adalah Fatimah al Nishapur (d. 223/838). Ia dikenal sebagai sufi perempuan yang paling masyhur di Khurasan yang hidup pada abad 9 M. As-Sulami, seorang master sufi kenamaan bahkan menyebutnya sebagai seorang Gnostik yang agung. 

Dalam beberapa catatan dikisahkan Fatimah al- Nishapur sering dikunjungi oleh Syeikh ternama sufi Abu Yazid Al-Bistami (d. 260/874) dan juga sufi kenamaan Mesir Syeikh Dzul Nun Al-Misri (d. 245/859). Kedua sufi besar ini menyebut Fatimah sebagai perempuan suci utusan Tuhan dan dianggap sebagai guru dalam perjalanan spiritual mereka. 

Fatimah al Nishapur seringkali melakukan perjalanan spiritualnya sendiri ke berbagai kota. Sesuai pengakuan Dzul Nun Al-Misri, Fatimah kerapkali melakukan perjalanan spiritual ke berbagai daerah untuk berguru kepada para guru-guru sufi ternama di kota tersebut. 

Dzul Nun Al-Misri pernah menjumpainya saat ia melakukan perjalanannya (siyāha) sendiri ke Jerussalem. Tak hanya berguru, Fatimah juga melakukan perjumpaan dengan masyarakat-masyarakat kurang beruntung di kota kota yang ia kunjungi untuk mengajarkan praktek dan ajaran-ajaran sufisme.

Selain Fatimah, Al-Sulami juga mengabadikan cerita Umm al-Fadl, seorang sufi perempuan yang datang ke Nishapur pada pertengahan abad ke sepuluh. Umm al-Fadl sedang melakukan pengembaraan dari kota ke kota untuk memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan dari para guru guru sufi ternama di kota tersebut yang kemudian ia sampaikan kepada murid-muridnya di tempat asal Umm al-Fadl. 

Fatimah dan Umm al-Fadl adalah dua di antara banyaknya tokoh-tokoh sufi perempuan lainnya yang disebutkan Jacques dalam “Women Mystics in Medieval Islam: Practice and Transmission” tentang peran dan partisipasi mereka di ruang-ruang publik. 

Banyak di antaranya para sufi perempuan ini yang juga memiliki murid baik laki-laki dan perempuan. Mereka berperan aktif di ranah sosial masyarakat, mendirikan lembaga pendidikan dan keilmuan, bahkan harus melakukan pengembaraan sendiri untuk mencapai level spiritualitas tinggi sebagai syeikhah. 

Membaca Matsnawi Ma’nawi dalam uraian yang tak bertele-tele, padat dan bermakna, membuat saya seperti membaca karya besarnya Rumi secara langsung. Saya turut senang karena dapat menikmati syair² Rumi lewat tangan penulis perempuan sebagai perantara perjalanan spiritual bagi ruh ruh dalam jiwa manusia yang berkelana tak tentu arah. 

Syair-syair Rumi tak lagi saya pahami sebagaimana yg kerapkali muncul di laman media sosial. Kata-kata yang seolah berdiri sendiri, sunyi dan kehilangan konteks. Namun dalam buku ini seolah syair-syair Rumi baru diciptakan di momen ketika kita membacanya hari ini. Dan Mbak Afifah menafsirkannya dengan sangat pas, kontekstual dan relevan. 

**

Maria Fauzi, Founder Neswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *