Selasa, Mei 24

Resensi Ngaji Rumi Oleh Redaktur Mubadalah.id

Cinta Sufistik Rumi sebagai Jalan Pembebasan bagi Perempuan

Dalam sejarahnya perempuan mengalami proses penindasan dan peniadaan secara struktur serta massif. Sebagaimana yang dituturkan Dr. Nur Rofiah dalam beberapa kali kesempatan Ngaji KGI secara online maupun offline, yang pernah saya ikuti. Bahwa sejarah peradaban manusia diwarnai dengan cara pandang yang mendudukkan perempuan sebagai objek dalam sistem kehidupan. Selama berabad-abad perempuan dipandang milik mutlak laki-laki, yakni ayah/suami/anak/kerabat laki-lakinnya, yang bisa dijual, dihadiahkan, diwariskan, dan dieksploitasi secara seksual ataupun lainnya.

Namun hal berbeda saya rasakan ketika membaca bait-bait syair cinta sufistik Rumi, yang saya temui dalam beberapa tulisan Afifah Ahmad di media, dan buku karyanya yang sedang saya baca, yakni “Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik”. Sebagai perempuan justru saya merasa bangga, merasa dibebaskan dan meyakini jika cinta sebagaimana digambarkan Rumi akan menjadi jalan pembebasan bagi perempuan.

Perempuan adalah pantulan cahaya Illahi, bukan hanya yang dicintai

Tidak, konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan pencipta

(Rumi, Matsnawi, jilid 1, bait 2437)

Di halaman 61 buku tersebut, Afifah Ahmad menjelaskan bahwa para pengkaji Rumi menyebut inilah puisi yang menggambarkan puncak tertinggi penghormatan Rumi kepada perempuan. Meski diksi-diksi yang digunakan Rumi terkesan hiperbolis, seperti diksi “Kholiq”, tentu Rumi tak bermaksud membuat sekutu Tuhan. Rumi hanya sedang melihat begitu pentingnya posisi perempuan dalam semesta, yaitu menjadi perantara kehadiran manusia.

Maka jika semua lelaki cerdas telah bersepakat demikian tentang perempuan, tepat kiranya bait Rumi yang dituliskan Afifah Ahmad di halaman 65 bukunya:

Nabi pernah berpesan: Perempuan akan Berjaya (mulia) di hadapan lelaki cerdas

Sebaliknya, lelaki pandir akan mendominasi perempuan dengan watak dogma

(Rumi, Matsnawi jilid 1, bait 2433 dan 2434)

Menurut Afifah, dalam bait di atas Rumi menjelaskan sebuah potongan riwayat tentang perbedaan lelaki cerdas dan pandir dari bagaimana mereka memposisikan perempuan. Para lelaki keren akan memberikan kesempatan dan ruang kepada para perempuan di sekitarnya, terutama pasangan untuk terus bertumbuh, melakukan me time, dan mencerdaskan diri. Sebaliknya, lelaki terbelakang hanya melihat pasangannya sebagai barang kepemilikan, ia berhak mendominasinya.

Dan, saya bersepakat untuk itu. Jika manusia saling mencinta dengan rasa saling menghormati dan menghargai, maka cinta itu akan meniadakan penindasan, apapun bentuknya. Baik terhadap perempuan maupun sesamanya. Afifah Ahmad, melalui buku yang ditulisnya, telah menghadirkan kembali cinta Rumi sebagai jalan untuk membebaskan perempuan dari segala bentuk penindasan.

Sebagaimana kalimat yang berulangkali KH Husein Muhammad sampaikan dalam banyak kesempatan. Bahwa perempuan adalah ibu manusia. Dari tubuhnya semua manusia dilahirkan, dan perempuan adalah basis dari peradaban dunia. penghormatan kita terhadapnya, adalah penghormatan terhadap diri kita sendiri, dan merendahkan perempuan, adalah merendahkan terhadap diri sendiri.

Sumber: https://mubadalah.id/cinta-rumi-sebagai-jalan-pembebasan-bagi-perempuan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *