Kamis, Juni 30

Ghazal 631: Harapan yang Selalu Bersemayam

Wahai jiwa-jiwa, jangan putus asa, harapan itu adaHarapan yang datang dari tempat tak terduga

Nyalakan lentera asamu, meski jiwamu kehilangan Maryam

Ia yang dengan cahayanya telah melangitkan Isa

Duhai jiwa yang terbelenggu dalam jeruji, teruslah bersemangat

Lihatlah bagaimana sang raja membebaskan Yusuf dari penjara

Harapan itu juga yang menyembuhkan Yakub dari kebutaan

Dan menyampaikan Zulaikha pada Yusuf, kekasihnya

Duhai malam yang kau penuhi dengan lantunan “Ya Rab…Ya Rab!”

Pada setiap seruan nama Tuhan, ada limpahan rahmatNya

Oh…luka lama yang menyayat, akan datang obat penawarnya

Dan gembok yang terpatri kuat, telah ada kunci pembukanya

Seperti mereka yang berpuasa akan sampai pada masa berbuka

Maka reguklah kenikmatan, hari raya di hatimu telah datang

Hening…heninglah sejenak ketika titahNya mewujud

Akan datang keindahan yang tak terlukiskan 

Catatan:

Dalam tradisi masyarakat Persia, Rumi sering disebut sebagai “Payambar-e Omid”. Secara harfiah “Payambar” bermakna pembawa pesan dan biasanya gelar ini disematkan kepada para nabi sebagai pembawa pesan ilahiah. “Omid” bermakna harapan. “Nabi Pembawa Harapan” kira-kira begitu. Tentu saja penyebutan kata Nabi di sini bukan secara harfiah, tetapi istilah orang besar yang meneruskan pesan kenabian. Gelar ini diberikan karena puisi-puisi Rumi selalu dipenuhi dengan harapan-harapan, baik yang tersirat maupun tersurat langsung. 

Seperti puisi Ghazal ke 631 dalam kitab Divan-e Shmas atau Divan-e Kabir. Seluruh bait dalam puisi ini memanggil pembacanya untuk selalu optimis pada situasi apapun. Saya sendiri sangat jatuh cinta pada bait kedua:

Nyalakan lentera asamu, meski ruhmu kehilangan Maryam

Ia yang dengan cahayanya telah melangitkan Isa

Banyak ahli Rumi menyebutkan, penggunakan simbolisasi kata Maryam melampaui sejarah ketokohan Siti Maryam sendiri. Maryam adalah puncak harapan tertinggi sekaligus simbol perjuangan yang tak pernah henti. Seandainya Maryam menyerah, tidak akan pernah ada sosok Isa yang penyayang. 

Salah seorang penafsir Rumi bahkan menyebutkan bahwa Maryam adalah “del” itu sendiri atau fuad yang merupakan tingkatan kecerdasan tertinggi manusia. Tanpa Maryam, jiwa manusia akan tersesat dan sulit menemukan jalan cinta. Simbolisasi bernada feminin memang bukan hal baru dalam lisan Ibnu Arabi maupun Rumi, namun dalam bait ini ramuannya begitu terasa.

Bait lain yang tak kalah menarik adalah bait keenam:

Oh…luka lama yang menyayat, akan datang obat penawarnya

Dan gembok yang terpatri kuat, telah ada kunci pembukanya

Rumi seperti ingin berpesan, sedalam dan seperih apapun luka yang kita alami, pada akhirnya akan menemukan tepinya, seperti orang yang berpuasa akan bertemu waktu berbuka. Begitu juga manusia tidak akan selamanya berada dalam penderitaan. 

Bait terakhir mengajak pembaca untuk melakukan perenungan. Dalam sebagian besar Ghazal-nya, Rumi memang selalu menutup dengan kata “Khamos” atau “Heninglah” saat kata-kata tak lagi bisa mewakili apa yang bergejolak, diam adalah wadah terbaik untuk menadah setiap curahan rahmat-Nya.  

Terima kasih sudah membaca catatan sederhana ini, di posisi apapun saat ini, semoga teman-teman tetap menyisakan ruang optimis. Selamat Hari Jumat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *