Senin, September 26

Ngaji Rumi: Dialog Seorang Perempuan dengan Kacang Polong

Alkisah seorang perempuan sedang memasak di depan tungku, lalu ia memasukkan kacang polong ke dalam kuali yang dipenuhi air mendidih. Tiba-tiba ada kacang polong yang terlihat meronta seolah tidak ingin masuk ke dalamnya. Ia protes kenapa perempuan itu membelinya dari pasar lalu membinasakannya. Terjadilah dialog panjang antara perempuan dan kacang polong. 

Tidak mungkin menuliskan seluruh dialog yang jumlahnya puluhan bait, tapi inti jawaban dari perempuan tersebut, si kacang sebenarnya tidak hilang atau binasa. Ia justru sedang berubah bentuk dan ber-evolusi menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti kata Rumi yang menjelma tokoh perempuan “Hai ndok, saat menjadi makanan nanti, engkau akan berubah sebagai energi dan pikiran” Menurut Rumi dengan perubahan itu, wujud kacang akan memberikan kontribusi lebih baik bagi semesta. 

Kisah ini disampaikan oleh Rumi dalam kitab Matsnawi, jilid 3, bait 4159-4195. Sebuah cerita dengan ilustrasi yang cukup menarik. Delapan abad lalu, sebelum dunia kita diramaikan oleh film-film Disney yang menghidupkan tokoh-tokoh dari benda-benda di sekitar manusia, Rumi telah membawa imajinasi kita untuk tidak hanya merasakan kehadiran wujud lain di sekitar kita, tapi juga berkomunikasi.   

Lalu pesan apa yang ingin disampaikan Rumi dalam cerita ini? Seperti banyak syair lainnya yang memiliki tafsir berlapis, kisah ini pun bisa dipahami dengan berbagai pendekatan. Dalam disiplin tasawuf, cerita ini menjadi ilustrasi kecil bagaimana mengurangi rasa ketakutan manusia berpindah alam melalui proses kematian. Kata para sufi, rasa takut akan peristiwa kematian disebabkan kemelekatan yang tinggi pada dunia. Karena itu, para sufi menerapi dirinya dengan kematian ikhtiari.

Dalam tafsir yang lebih luas, cerita ini juga dapat menjadi terapi psikologis dan mental. Rumi mengajak kita untuk menyadari tentang makna “penerimaan” setiap fase dalam perjalanan hidup kita, karena sering kali peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita ternyata adalah gerbang menuju tingkatan yang lebih baik. Tentu tidak hanya harus bermakna capaian yang bisa terukur secara kuantitatif, bisa jadi dalam bentuk kematangan spiritual yang biasanya malah kurang disadari. 

Melalui cerita ini, Rumi juga mengajak kita untuk memandang “musibah” dengan kaca mata yang berbeda. Dalam kerajaan cinta ilahi, musibah dan segala yang tidak menyenangkan adalah cara Tuhan mengungkapkan cinta dan rahmatnya dalam bentuk lain agar manusia selalu kembali kepadaNya. Masih dalam rangkaian cerita di atas, Rumi menyelipkan pesan penting tentang rahmat Tuhan. 

رحمتش بر قهر از آن سابق شده است

تا که سرمایه وجود آید به دست

Rahmat Tuhan mendahului murka-Nya

Agar seluruh makhluk merasakan kasih sayang-Nya

(Matsnawi, jilid 3, bait 4167)

رحمتش سابق بوده ست از قهر، زآن

تا ز رحمت گردد اهل امتحان 

Rahmat Tuhan mendahului murka-Nya

Dengan rahmat inilah Tuhan uji manusia

(Matsnawi, jilid 3, bait 4166)

Terlepas dari berbagai tafsir yang ada, saya pribadi sebagai perempuan punya pengalaman tersendiri saat membaca cerita ini, saya menangkap pesan tersirat bahwa rutinitas apapun dapat memberikan inspirasi dan pengalaman batin kalau dilakukan dengan bashirah atau penghayatan. Secara tidak langsung, pesan ini juga mendorong para perempuan untuk terus membekali diri dengan ilmu agar dalam posisi apapun tetap dapat berkontribusi, seperti tokoh perempuan dalam cerita ini yang berhasil memberikan pencerahan kepada lingkungan di sekitarnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *