Kamis, Februari 2

Cinta, Nama Lain Tuhan

“Anda tahu kenapa malaikat diperintahkan sujud kepada Adam?”, tanya seorang pengajar dalam sebuah kelas Rumi. Hening. Semua memilih untuk merenungkan pertanyaan itu lebih dalam. “Karena pada diri Adam, ada manivestasi Tuhan”, akhirnya pertanyaan itu dijawabnya sendiri. Ya, tidak hanya pada Adam, Tuhan hadir dalam setiap ciptaannya dan Tuhan amat menyayangi seluruh makhluknya.

***

Potongan dialog tersebuat mengawali kelas sorogan kitab Matsnawi yang saya ikuti sejak tahun 2018. Ada yang terasa berbeda pada pertemuan sore itu. Mungkin karena kami akan menamatkan kitab ketiga Matsnawi. Atau mungkin juga karena bait-bait di akhir kitab ketiga mengekspresikan begitu banyak ruang cinta. Sejatinya, hampir seluruh puisi Rumi memang menyimpan pundi-pundi cinta, namun terkadang di beberapa bagian penekannnya terasa begitu kuat. Ya, misalnya dalam bait-bait terakhir kitab ketiga Matsnawi ini.

Kata Rumi dalam bait-baitnya, “Apa sebenarnya makna cinta ketika rasionalitas tak lagi mampu menggapainya? Cinta ibarat lautan tak berbatas” Lautan yang tak mudah diarungi, tapi bukan berarti tak mungkin untuk dilayari, bahkan harus. Kita masih terjebak dalam belenggu kedirian karena belum memahami dan merasakan hakikat cinta. Kata Rumi lagi “Andai saja semesta bisa bicara, ia akan menyingkap tabir bagaimana keragamaan ini sebenarnya adalah tunggal dan semua disatukan oleh cinta”

Berbeda dengan penyair Hafez yang menyebutkan, cinta awalnya terasa manis, namun setelahnya akan begitu banyak ujian. Menurut Rumi “Eshq az awal cera khooni buvad”, cinta sejak awal memang berdarah. Kafilah cinta di awal-awal perjalanannya sudah akan diuji dengan begitu banyak hal yang tidak menyenangkan. Jalan cinta yang terjal ini akan memotret siapa yang benar-benar siap berjuang. Sekali lagi, sulit bukan berarti tak bisa untuk dilalui. Seperti kata Rumi, Tuhan akan selalu membimbing kita keluar dari kesulitan selama kita tetap memiliki harapan dan upaya yang terus-menerus.

Jika kau berupaya keras, Tuhan akan bentangkan sayap untukmu saat kakimu tak sanggup lagi melangkah

Bahkan, Tuhan akan bukakan jalan untukmu saat kau berada di sumur tergelap sekali pun

Seperti firman Tuhan, jangan kau lihat sesulit apa posisimu

Tapi lihatlah Aku pemilik kunci dan pembuka jalan yang tak kau duga

(Matsnawi jilid 3, bait 4808-4809)

Ya, menurut Rumi, sebesar itu cinta Tuhan kepada makhluknya. Tak salah jika guru saya menyebutkan “Cinta adalah nama lain Tuhan”