Jumat, Februari 3

Resensi Buku Ngaji Rumi

Sumber gambar: Iqra.id

Pertama sejak baca-baca status Mba Afifah Ahmad yang seminggu sekali muncul status ngaji Rumi. Jujur saya jadi tertarik untuk mempelajari pemikiran Jaladuddin Rumi. 

Hal ini bersamaan juga dengan adanya bacaan saya soal subjek menurut AlGhazali. Entah kenapa Rumi rasanya cukup banyak memberikan pengaruh dalam pencarian dan penelusuran saya soal subject menurut AlGhazali. 

Ketika aku beli dua buku Rumi yang berjudul Mastnawi dan Fii hii ma Fiihi, aku merasa berat sekali untuk mencerna dua buku babon Jalaluddin Rumi, sampai akhirnya aku menemukan buku Ngaji Rumi yang ditulis Mba Afifah ini. Saya sangat berterimakasih yang sebeasar-besarnya pada mba Afifah yang sudah menuliskan buku ini kayak catatan-catatan, namun penuh dengan pengetahuan spiritual dan pastinya bukan ceramah, namun tulisan intelektual. 

Ada satu tulisan mba Afifah dalam buku ini yang membuat aku terenyuh sekaligus takjub yakni kisah Bayazid Bustami Yang Tak Jadi Naik Haji. 

Kenapa hati terenyuh? karena hari ini begitu mudahnya orang untuk pergi ke tanah suci katakanlah umrah dan haji sampai orang antri puluhan tahun untuk bisa berangkat haji, namun kebanyakan kepergian orang umrah hanya untuk wisata religi, karena tidak semua orang akan mendapatkan esensi dari berhaji dan berumrah adalah perjalanan menuju makrifatullah. Di lain pihak betul juga apa yang ditulis oleh Mba Afifah berlomba-lomba mencari ritual tanpa bisa mencari makna spiritualitas adalah bagaikan petani yang menyimpan gandum hasil panen berkarung-karung namun karung itu telah habis dilubangi tikus dan memakan gandumnya tanpa disadari oleh petani, kerja keras petani tidak menampakkan hasil. 

Seiring pula dengan pendapat Imam Alghazali bahwak manusia memang memiliki hati dan akal sebagai pembeda dengan makhluk lainnya. Namun untuk sampai pada hal tersebut hati seseorang yang mendapat percikan cahaya ilahi (devine light) yang akan sampai ‘rasa’ (Dzhawk) dalam hati dan akalnya. Orang seperti inilah yang mampu membuat seseorang dapat memahami sesuatu yang ada dibalik penglihatan indra, tidak sekedar dari pemikiran teoritik dan pemikiran akalnya saja. 

Pendapat AlGhazali soal ini senada dengan pendapat Ibnu Sina melihat posisi akal. Jadi dengan demikian Kecerdasan dalam makna hakiki yang dimaksudkan oleh Alghazali dan Ibnu Sina adalah Ghariza (naluri) yang manusia itu bisa mendapatkan lewat kecerdasan ini (bil ‘aql minhum), percikan cahaya ilahi itulah yang membuat mereka memahami objek kebenaran dibalik pengetahuan itu sendiri. 

Sekali lagi makasih mba Afifah dan Afkaruna  moga tulisan mba Afifah dalam buku ini jadi amal jariahnya. 

Sumber: Laman Facebook Devi Adriyanti