Jumat, Februari 3

Maryam dan Simbolisasi Perjalanan Rohani

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengikuti tour budaya dengan agenda mengunjungi gereja-gereja tua di Tehran. Setiap kali saya memasuki ruang utama gereja, perhatian saya selalu tersedot pada lukisan bunda Maria. Menariknya, visualisasi bunda Maria dari satu gereja ke gereja lainnya terlihat berbeda. Ada yang menggambarkan bunda Maria dengan kain penutup kepala yang menjuntai hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ada juga yang melukiskan bunda Maria tampak bersahaja, berkerudung putih dengan menyisakan rambut di bagian depannya. Bahkan di gereja yang saya kunjungi juga, ada lukisan bunda Maria tanpa penutup kepala bergaya busana perempuan Eropa abad pertengahan. 

Betapapun beragamnya visualisasi dan ekspresi lukisan bunda Maria, ada dua hal yang selalu saya jumpai. Pertama, hampir semua lukisan itu menggambarkan posisi bunda Maria yang sedang memangku atau mendekap putranya yang masih bayi, Nabi Isa AS. Kedua, letak dan posisi lukisan tersebut selalu berada di area altar, tempat paling sakral dalam ruangan gereja. Tanpa perlu membaca puluhan lembar, dapat dengan mudah disimpulkan betapa tinggi posisi bunda Maria dalam agama kristiani. 

Begitu juga bunda Maria yang dalam tradisi Islam dikenal dengan sayidah Maryam, merupakan sosok perempuan yang amat dihormati sekaligus banyak diperbincangkan. Menurut peneliti Quran, Nama Maryam disebut sebanyak 34 kali dalam Alquran. Bahkan, namanya menjadi salah satu nama surat dalam kitab suci umat Islam ini. Umat Islam mengenal sosok Maryam sebagai perempuan yang kuat, taat beribadah, dan ibu yang penuh perjuangan.

Terlebih di kalangan tokoh tasawuf, Rumi misalnya memberikan perhatian khusus kepada sosok Maryam. Ia memotret begitu banyak sisi-sisi kehidupan Ibunda Nabi Isa ini lewat syair-syairnya. Nama Maryam disebutkan sebanyak 60 kali dalam Divan-e Shams Tabrizi dan 20 kali dalam kitab Matsnawi Maknawi. Bahkan dalam jilid ketiga kitab ini, Rumi secara detail mengisahkan pertemuan dan dialog Sayidah Maryam dengan Ruhul Quds. 

Maulana Jalaluddin Rumi memandang Kedudukan spiritual Sayidah Maryam setingkat dengan para Nabi. Kata Rumi dalam ghazal 106: “Kurma yang dimakan oleh Sayidah Maryam adalah ‘hidangan’ yang sama seperti yang diberikan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW”. Sebuah pengakuan yang cukup berani di tengah masyarakat yang masih menempatkan perempuan sebagai kelas sosial kedua. 

Keistimewaan yang diperoleh Sayidah Maryam ini, bukan lantaran privilege terlahir dari lingkaran kenabian, tetapi juga diperoleh karena upaya dan kesabaran yang luar biasa, terutama saat Sayidah Maryam menghadapi tekanan masyarakat seperti difitnah dan dikucilkan hingga harus bertahan seorang diri dan melahirkan di tengah gurun. 

Terinspirasi dari kegigihan inilah, Rumi memaknai perjalanan Sayidah Maryam yang mampu melewati berbagai penderitaan sampai akhirnya mendapatkan kurma, sebagai simbolisasi seorang pejalan spiritual yang berhasil meraih cahaya kebenaran setelah menempuh beragam kesulitan. Rumi menempatkan Maryam melampaui personifikasi tokoh, ia sendiri merupakan simbol luka, perjuangan, dan cinta. Karena itu dalam ghazal 825 Rumi berkata: “Mari menjadi Maryam yang gigih meraih kurmaNya”. Diksi kurma dalam konteks ini melambangkan hakikat ilahiah. Ajakan ini juga diperkuat oleh ghazal 631: “Nyalakan lentera asamu, meski jiwamu terpisah dari Maryam. Ia yang dengan cahayanya telah melangitkan Isa

Syair ini mengandung penafsiran yang begitu dalam dan tersembunyi, Taqi Pournamdarian dalam bukunya berbahasa Persia tentang kisah-kisah kenabian dalam Divan-e Shams menyebutkan, Rumi melihat sosok Shams sebagaimana Sayidah Maryam yang meskipun fisiknya tidak hadir, namun pancaran sinarnya tetap dapat terus dirasakan. Sosok Maryam menjadi semacam simbol harapan tertinggi bagi mereka yang sedang berada dalam keputusasaan.

Bagi saya pribadi, simbolisasi Rumi terhadap sosok Maryam ini, mampu mengeluarkan ketokohannya dari stagnasi sejarah. Maryam adalah inspirasi perjuangan yang tak pernah lelah sekaligus tambang harapan yang tak pernah kering. Setiap kita, memiliki potensi untuk menjadi Maryam yang melahirkan harapan-harapan baru yang kita bangun dengan segala doa dan kerja keras. Selamat hari Jumat.