Kamis, Februari 2

Layla dan Keindahan tak Berbatas

Siapa tak kenal legenda Layla Majnun yang dipopulerkan oleh Nizami Ganjavi? Kisahnya selalu menginspirasi para penulis, penyair, bahkan kerap dipinjam para tokoh sufi sebagai perumpamaan untuk menghadirkan pesan yang sesungguhnya, tak terkecuali Maulana Jalaluddin Rumi. Dalam kitab Matsnawi Maknawi, setidaknya kisah Laila Majnun disebut tujuh kali secara terpisah. 

Di tangan Rumi, penyajian kisah Layla Majnun ini agak berbeda. Ia memang tidak menghadirkan seluruh fragmen, tapi memotret dari berbagai sudut pandang. Rumi juga tidak membincang kisah ini dengan gaya elegi dan melankolis ala Romeo-Juliet. Tetapi, meramu cerita Layla-Majnun menjadi simbolisasi cinta yang memerdekakan, menguatkan, dan menyatukan. 

Misalnya ketika Rumi menuturkan fragmen Majnun dalam kitab Matsnawi jilid 5 bait 1999-2019. Dikisahkan suatu hari Majnun jatuh sakit karena keterpisahan dari Layla. Datanglah tabib untuk mengobatinya. Baru saja tabib mengambil pisau bedah, Majnun langsung menolak untuk diobati. Melihat reaksi Majnun, Tabib merasa heran, karena Majnun terkenal sangat pemberani. Untuk bertemu dengan Layla kadang ia harus melewati hutan belantara yang penuh dengan hewan buas, tapi mengapa ia takut dengan sebilah pisau? 

Jawaban Majnun cukup mengejutkan, ia sama sekali tidak takut pada sebilah pisau, bahkan ia rela terus merasakan sakit. Namun yang dikhawatirkan, pisau yang menyentuh tubuhnya itu juga akan melukai Layla. Karena bagi Majnun, seluruh wujud Layla telah bersemayam dalam tubuhnya, melintas dalam setiap aliran darah. 

Karim Zamani memberikan catatan melalui pendekatan sufisitik transendetal. Menurutnya, ilustrasi ini mengambarkan perjalanan seseorang yang telah melabuhkan cintanya kepada Tuhan hingga seluruh wujudnya berganti menjadi‘warna Tuhan’yaitu ia merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. 

Dalam penafsiran yang lebih luas, Rumi berupaya menyampaikan pesan terdalam bagaimana peristiwa kehilangan, keterpisahan, dan luka dapat memberikan spirit penyatuan jiwa bukan malah membawa keterpurukan. Sebagaimana Rumi sendiri yang mengalami keterpisahan dengan sang guru dan sahabatnya Shams Tabrizi yang membawanya pada pemahaman tidak perlu lagi berduka, karena Shams telah menyatu dalam dirinya. Sebagaimana Majnun yang merasakan penyatuan bersama Layla.

Pertanyaannya, bagaimana sang pecinta yang diwakili tokoh Majnun bisa sampai pada tahap penyatuan? Rumi dalam dalam kitab Matsnawi jilid 1 bait 407-436 menampilkan fragmen lainnya. 

Suatu hari Layla diundang oleh Khalifah ke istana karena mendengar kisah cintanya yang selalu disebut-sebut. Setelah bertemu langsung dengan Layla, Khalifah merasa heran dan bertanya kepada Layla: “Apa yang membuat Majnun begitu tergila-gila kepadmu? Padahal kamu biasa-biasa saja dan di luar sana banyak yang jauh lebih cantik”Kemudian dengan tegas Layla menjawab: “Diamlah, Anda bukan Majnun yang telah melihat dengan hakikat”

Untuk mengkonfirmasi pernyataan Layla agar tidak dianggap klaim, Rumi menghadirkan cerita dari sudut pandang Qais atau Majnun dalam kitab Matsnawi jilid 5 bait 3286-3288. Diceritakan keluarga Majnun sedang membicarakan Layla, mereka merasa heran apa yang membuat Majnun begitu mencintai Layla padahal Layla terlihat seperti perempuan biasa saja. Majnun menjawab dengan meminjam perumpamaan kendi dan minuman.  Penampilan luar ibarat kendi dan kualitas minuman yang berada di dalamnya menggambarkan keindahan sejati. Bentuk sebuah kendi tidak lantas mewakili kualitas minuman di dalamnya. 

Rumi secara panjang lebar menjelaskan, keindahan adalah perkara batin, bukan zahir. Bisa jadi bentuk sebuah kendi tidak menarik, tapi di dalamnya tersimpan minuman yang lezat. Majnun ingin mengatakan, yang membuat ia begitu mencintai Layla bukanlah penampilan fisiknya, tapi kualitas kedirian Layla. Dalam bait lanjutan, Rumi mengajak kita untuk tidak berhenti melihat sebuah fenomena dari penampakan luarnya. 

Sering ada anggapan bahwa Majnun telah dibutakan oleh cinta sehingga melihat Layla hanya dari pandanganya. Namun Rumi membalik anggapan itu, justeru Majnun telah memiliki kesadaran yang lebih tinggi dalam memaknai keindahan sejati. Keindahan yang diteropong melalui lensa jiwa yang jernih. Cara pandang inilah yang akhirnya menyampaikan pada konsep penyatuan. 

Sebagai pembaca perempuan, saya sendiri merasakan pengalaman yang khas saat menyimak bagaimana Rumi menuturkan kisah Layla-Majnun, terutama ketika Layla bertemu khalifah. Rumi menggambarkan Layla sebagai sosok perempuan yang tegas, berani, dan percaya diri. Bahkan, ia berani menyuarakan prinsipnya di hadapan penguasa tertinggi saat itu tentang makna keindahan sejati. 

Hari ini, ketika standarisasi keindahan perempuan banyak di-distorsi oleh kepentingan industri, ajakan Rumi melalui tokoh Layla untuk kembali memaknai keindahan sejati, masih sangat relevan. Keindahan yang tidak dibatasi oleh seberapa bagus baju yang dikenakan dan seberapa mahal harga lipstick. Keindahan yang melintas ruang dan waktu. Keindahan yang melahirkan ketajaman spiritualitas yang tak berbatas. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *