Minggu, Mei 19

Mustafa, Menyatukan Umat dengan Cinta

Lukisan Farshician

Dalam naungan cahaya Mustafa

dendam masa lalu menjadi sirna

Ia persaudarakan kaum yang bertikai

laksana butiran anggur dalam satu tangkai

(Matsnawi, juz 2, bait 3714-3715)

Sungguh indah Rumi melukiskan salah satu berkah kehadiran Rasulullah SAW sebagai pemersatu umat. Konteks puisi yang ditulis Rumi dalam kitab Matsnawi ini kembali pada salah satu fase sejarah menjelang hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke kota Madinah. Sejarah mencatat, di Madinah pra Islam, ada dua kabilah terkemuka, yaitu Aus dan Khazraj yang meskipun berasal dari satu rumpun tetapi mereka selalu bertikai dan berperang. Berbagai upaya pernah dilakukan untuk meredakan pertikaian tersebut, tapi tak pernah berhasil. Sampai akhirnya datanglah sosok Rasul mempersaudarakan kembali mereka yang kemudian melebur menjadi kaum Anshar.

Apa sebenarnya rahasia keberhasilan Rasulullah membangun ekosistem perdamaian ini? Dalam puisi selanjutnya, yaitu bait 3727-3729, Rumi mendedah dengan indah. “Terpujilah duhai guru seluruh cinta (Nabi Muhammad SAW), ribuah partikel berhasil engkau satukan. Seperti tangan pengrajin keramik yang meramu bermacam tanah, menjadi sebuah guci yang indah”. Rumi memilih diksi Ostad-e kulli esgh atau guru seluruh cinta untuk menekankan hanya pecinta sejati yang mampu membangun pondasi persatuan secara kokoh.

Rumi mengilustrasikan inisiator perdamaian dengan perupa atau pengrajin keramik. Mungkin banyak orang yang dapat menciptakan keramik, namum hanya pengrajin yang memasukkan rasa cinta yang akan membuat karyanya abadi. Sebagaimana banyak orang yang menyeru pada persatuan namun sering kali hanya berhenti pada motif pragmatis dan musiman, tentu hasilnya pun akan jauh dari yang diharapkan. Karena itu dalam puisi selanjutnya, Rumi segera meluruskan bahwa yang dimaksudkan bukan penyatuan di permukaan yang biasanya bersifat simbolis, tapi lebih dalam lagi, yaitu bersatunya ruh.

Perjuangan Nabi Muhammad sendiri untuk menyatukan berbagai kabilah saat itu tidaklah mudah, beliau melakukan pendekatan dan mengedukasi kedua belah pihak sampai masing-masing mencapai kedewasaan untuk memutuskan yang terbaik. Rumi mengibaratkan persatuan umat sebagai kumpulan buah anggur dalam satu tangkai, meskipun setiap buah berdiri sendiri namun berada dalam satu kesatuan dan jika diperas akan melebur menjadi minuman yang segar. Syarat buah anggur atau buah apa pun dapat dinikmati hasil perasannya ketika sudah matang, bukan yang masih mentah. Begitu juga, hanya umat yang telah melalui proses pendewasaan dalam beragama yang akan mudah mencari titik temu.

Di bagian puisi lainnya, Rumi juga menjelaskan, di antara ciri umat yang telah matang dan berada dalam naungan cahaya ilahiah, mereka berlaku adil dan tidak zalim, membantu siapa saja yang membutuhkan dan menjauhi perselisihan. Atau dalam tafsir yang lebih bebas, mereka selalu ingin menjadi jembatan pemersatu. Ya, jembatan yang rela terinjak demi orang-orang dari dua tempat berseberangan bisa berlalu lalang dengan nyaman. Karena itu, Rumi tak henti-hentinya mengajak pada pembacanya untuk selalu mencari titik perjumpaan. Tak terkecuali, dalam kisah ini pun, Rumi menyelipkan pesan persatuan, “Jauhilah ikhtilaf dan pertikaian, bahagiakan ruhmu, menuju pada sumbu penyatuan

Sekali lagi, Rumi telah menuntun kita untuk mengenal lebih jauh dan mensyukuri berkah kehadiran Rasulullah, manusia yang selalu menebar cinta ke suluruh semesta. Semoga di bulan Maulid yang suci ini, spirit persaudaraan juga bisa kita rasakan bersama. Allahumma shalli ala sayidina Muhammad wa ala ali sayidina Muhammad. Selamat atas kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *