Kamis, April 25

Menemukan Rumi dalam Puisi Sohrab Sepehri

Hidup tidak pernah kosong…

ada kasih sayang,

ada apel,

ada iman.

Ya, selama bunga shaghayegh (Anemone) masih merekah

hidup akan terus berjalan…

(Sohrab, Sepehri)

Puisi di atas begitu popular di tengah masyarakat Iran. Nama Sohrab sudah sering saya dengar, bahkan secara tidak sengaja saya pernah juga mengunjungi makamnya yang berada di kota Kashan. Ya, tidak sengaja, karena makamnya memang berada di area komplek seorang ulama yang saat itu saya ziarahi. 

Setelah bertahun lamanya, nama Sohrab kembali saya akrabi di kelas “Sastra Kontemporer Persia”. Ketika larik-larik puisinya dibacakan di ruangan, saya merasakan ada yang terhenyak di kedalaman sana. Apalagi, saat mendaras perjalanan hidupnya. “Ah…dia memang bukan penyair biasa”, begitu hati kecil saya bersuara. 

Dari situlah, saya mulai berburu buku kumpulan puisi Sohrab dan mengoleksi banyak karya yang membincangnya. Saya sendiri tidak tahu persis, dari sekian banyak nama penyair kontemporer Iran, mengapa hati saya berlabuh pada Sohrab Sepehri. Apakah karena Sohrab seorang pejalan?

Ya, Sohrab yang lahir tahun 1928 ini pernah melanglang buana ke berbagai benua. Ia pernah singggah ke China dan sempat bermukim di Jepang sekitar tahun 1960. Tak sekedar berkunjung, ia bahkan menyelami ajaran ketimuran yang perlahan merembas ke dalam beberapa karya puisinya. Ia juga menerjemahkan beberapa puisi Jepang ke dalam bahasa Persia. 

Selain ke Timur, Sohrab menjelajah belahan bumi bagian barat, ia mampir ke banyak negara di Eropa dan membaca modernisme yang saat itu tengah kuat didemonstrasikan. Tapi, hati Sohrab sepertinya masih tertinggal di tanah kelahirnya. Lihatlah bagaimana ia menulis dari Paris untuk temannya: “Di sini, semuanya baik-baik saja. Tapi hati saya merindukan hamparan gurun”. 

Gurun dalam diksi tasawuf, terutama Rumi adalah simbol ketakterhingaan dan penyatuan wujud, di mana tak ada sekat-sekat yang membentengi perjumpaan ruh. Kerinduan pada gurun bermakna kerinduan pada spiritualitas. Ya, perjalanan dan spiritualitas, barangkali inilah yang membedakan Sohrab dengan penyair lain di masanya.

Atau bisa jadi jatuh cinta saya pada Sohrab, karena alasan lain, penggunaan diksi ‘nur’ atau cahaya mengingatkan saya pada filsuf Shahrawardi yang meramu teori cahaya. Misalnya pada puisi panjangnya berjudul “Jejak Air”, di mana ia menarisakan hidupnya, banyak bertaburan kata “cahaya”.

Masa kecilku diselimuti cahaya kelembutan dan boneka

Sebuah pelukan kebebasan,

Dan iringan musik yang indah

Di bait lain, ia menyebutkan pengalaman batinnya

Ku lihat seorang perempuan 

Yang tengah menumbuk cahaya dalam lumpangnya

Cahaya dan perempuan, dua diksi yang juga saya tangkap dari spirit banyak puisi Rumi. Meski dalam puisi di atas, saya masih bertanya apa maksud Sohrab tentang perempuan yang menumbuk cahaya. Di sisi lain, saya senang saat Sohrab mengenang masa kecilnya dengan ‘boneka’ yang seringkali hanya diidentikan dengan mainan anak perempuan. 

Barangkali, hal lain yang membuat saya terpikat puisi Sohrab, ia selalu menawarkan tafsir kebaruan. Masih dalam puisi “Jejak Air” ia menulis

Aku menghayati perjalanan aliran air

Juga mekarnya pucuk-pucuk dedaunan

Ruhku selalu bergerak menangkap kebaruan

Ruhku muda belia

Menarik menyimak pandangan Sirous Shamisa dalam bukunya tentang Sohrab. Dalam puisi ini, kita seolah diajak menangkap sebuah realitas seperti halnya pengalaman yang kita rasakan, bukan semata dari narasi yang diceritakan orang lain kepada kita atau dari kebiasaan umum yang dipahami semua orang, seperti kata Sohrab;

Aku tidak tahu…

Mengapa semua orang menyebut

Kuda hewan terhormat dan merpati indah

Mengapa dalam sangkar tak pernah ada burung bangkai

Apa kurangnya bunga semanggi dibanding bunga tulip merah

Mari basuh kembali mata kita 

dan melihat dari sudut pandang yang berbeda

Barangkali, puisi ini berpijak pada pandangan bahwa setiap manusia itu unik dan punya pengalaman batinnya masing-masing. Pengalaman batin inilah yang perlu terus diasah sepanjang waktu di tengah derasnya arus modernitas yang terus menyergap manusia. Sohrab lalu menawarkan sebuah konsep keseimbangan dengan mengatakan;

Mungkin tugas kita hari ini, 

terus mencerap kebijaksanaan ajaran sufistik 

sembari beradaptasi dengan penemuan-penemuan baru

Menurut saya pribadi, puisi ini, terasa pas didendangkan di hari-hari penghujung tahun, sebagai pengingat, sejauh apa pun nanti pengetahuan dan penemuan manusia melompat, sejatinya spiritualitas akan tetap hadir mengawalnya. Dan spirit inilah yang juga saya temukan berkali-kali dalam puisi-puisi Rumi. 

Barangkali benang merah inilah yang membuat saya belakangan mulai menggandrungi puisi Sohrab. Sekali lagi, persis seperti dulu saya menyukai Rumi, tidur dengan buku-bukunya dan rela bergadang untuk membaca karyanya. 

Saya berazam semoga tahun depan bisa menerjemahkan dan membuat pengantar yang cukup panjang tentang Sohrab Sepehri yang banyak disebut sebagai penyair sufistik kontemporer.