Senin, September 26

Matsnawi

Ngaji Rumi: Dialog Seorang Perempuan dengan Kacang Polong
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Dialog Seorang Perempuan dengan Kacang Polong

Alkisah seorang perempuan sedang memasak di depan tungku, lalu ia memasukkan kacang polong ke dalam kuali yang dipenuhi air mendidih. Tiba-tiba ada kacang polong yang terlihat meronta seolah tidak ingin masuk ke dalamnya. Ia protes kenapa perempuan itu membelinya dari pasar lalu membinasakannya. Terjadilah dialog panjang antara perempuan dan kacang polong.  Tidak mungkin menuliskan seluruh dialog yang jumlahnya puluhan bait, tapi inti jawaban dari perempuan tersebut, si kacang sebenarnya tidak hilang atau binasa. Ia justru sedang berubah bentuk dan ber-evolusi menjadi versi yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti kata Rumi yang menjelma tokoh perempuan “Hai ndok, saat menjadi makanan nanti, engkau akan berubah sebagai energi dan pikiran” Menurut Rumi dengan perubahan itu, wuj...
Ngaji Rumi: Pesan Nabi tentang Jalan Kesunyian
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Pesan Nabi tentang Jalan Kesunyian

Foto: Lukisan Farshichian Dalam sebuah seminar bertema ”Sastra Sufistik” di UIN Bandung, saya pernah menjelaskan, salah satu yang membuat puisi Rumi abadi karena terinspirasi dari kitab-kitab langit, termasuk hadis Nabi. Ada begitu banyak sabda Nabi yang dikutip Rumi dengan beragam metode penyampaian, baik kutipan langsung redaksi hadis maupun kandungan maknanya. Ciri puisi Rumi yang mengutip sabda Nabi, biasanya dimulai dengan kalimat گفت پیغامبر atau Nabi bersabda. Salah satu kutipan hadis dalam puisi Rumi yang menurut saya menarik, ada dalam bait ke 823-827 jilid 5 kitab Matsnawi Maknawi. Di sana Rumi mengulang serta memberikan penjelasan tentang pesan Nabi untuk menyayangi dan menemani tiga tipe kelompok. Siapa saja mereka?  گفت پیغامبر که رحم آرید بر جان من کان غ...
Hidup Lebih Indah karena Misteri Hari Esok
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Hidup Lebih Indah karena Misteri Hari Esok

Alkisah, seorang pemuda datang ke hadapan Nabi Musa AS. Ia ingin sekali diajarkan bahasa binatang. Awalnya Nabi Musa AS menolak karena tidak akan mendatangkan kebaikan kepadanya, bahkan akan merugikannya. Tapi karena pemuda itu terus mendesak, Nabi Musa pun memenuhi permintaanya dengan syarat ia berani menanggung segala resikonya. Singkat cerita, pemuda itu akhirnya mampu berbahasa ayam dan anjing. Suatu pagi, pemuda itu mendengar percakapan anjing dan ayam miliknya. Ayam memprediksi kalau kerbau milik majikannya akan mati, anjing bersorak gembira karena berarti besok ia akan mendapat jatah makanan lebih. Si pemuda itu segera menjual kerbaunya ke pasar agar dia tidak rugi karena kematian kerbaunya. Hari berikutnya, ayam memprediksi kematian budak majikannya. Pemuda itu juga bertind...
Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF
Buku, Buku Kontemporer, Matsnawi, Resensi Ngaji Rumi

Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF

Ini buku yang sangat luar biasa. Penulisnya memoles suasana kebatinan pembacanya untuk menelusuri Rumi, dengan melumuri  bingkai dan tafsir tematik atas karya-karya Rumi. Pandangan Rumi diurai dalam babakan Konsep Cinta dan Manusia, Etika Sosial, Toleransi, Perdamaian dan Beribadah dengan Gembira. Dan ada satu tema yang sangat kontekstual serta kekinian, yakni Perempuan dan Kesetaraan.  Di bab Perempuan dan Kesetaraan (halaman 61), penulis menyajikan:  Perempuan adalah pantulan cahaya Ilahi, bukan hanya yang dicintai.  Tidak, konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan pencipta.  (Rumi, Matsnawi Jilid 1, bait 2436) Para pengkaji Rumi menyebut, inilah puisi yg menggambarkan puncak tertinggi penghormatan Rumi kepada perempuan. Rumi melihat begitu pe...
Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan

Lukisan Farshician Alkisah, ada seorang perempuan yang setiap kali melahirkan, tidak berselang lama anaknya meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Ia amat berduka dan menggugat kenyataan pahit hidupnya. Lalu ia mendatangi seorang bijak bestari dan mencurahkan segala keresahannya. Sampai suatu malam, perempuan ini bermimpi melihat sebuah taman yang begitu indah. Belum selesai ia mengaguminya, sebuah istana terlihat di depan matanya. Nama perempuan itu tertulis di atas pintu. Ia memasuki istana tersebut dan melihat anak-anaknya yang sudah meninggal sedang berkumpul di sana. Kesaksian ini membukakan pintu batinnya pada keagungan dan keluasan rahmat Tuhan.  Kisah yang dituturkan oleh Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi juz 3 bait 3399-3418 ini tentu tidak asing lagi da...
Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin

Foto: Lukisan Farshician Bertema Setayash atau Pujian Kisah Nabi Musa as dan istrinya, Shafura sudah sering kita dengar dengan beragam tafsirannya. Dari yang menggambarkan cerita romantisme perjumpaan dua insan yang berakhir pada pernikahan indah, sampai penafsiran tentang perlunya perempuan bersikap iffah atau menjaga diri. Jarang sekali ada yang memotret relasi keduanya dengan pendekatan sufistik. Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi jilid 6 mencoba menjelaskan relasi tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Rumi memandang Shafura sebagai seorang perempuan yang memiliki kematangan intelektual maupun spiritual. Karena melalui pertemuan singkat dengan Nabi Musa as, ia mampu menganalisa dan membuat keputusan yang tepat sehingga terjadilah pertemuan antara Nabi Musa as dan ...
Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat di DM oleh beberapa orang yang bertanya tentang bagaimana pandangan Rumi terhadap Sayidina Ali bin Abi Thalib. Nah, kebetulan mumpung hari ini tanggal 13 Rajab, hari lahir Sayidina Ali, saya akan mengutip satu dua bait puisi Rumi tentang Sayidina Ali. Oya, sebelumnya perlu diketahui bahwa Rumi juga banyak mengungkap secara proporsional keutamaan tiga khalifah lainnya. Mungkin di lain waktu juga akan saya sampaikan. *** Dalam sebuah peperangan, Sayidina Ali bin Abi Thalib sedang bertarung dengan seorang jawara tanah Arab, sampai pada satu titik Sayidina Ali dapat mengalahkan dan membuatnya terjatuh tak berdaya. Karena merasa jiwanya tak akan selamat, untuk melampiaskan rasa bencinya, musuh itu meludahi sayidina Ali. Di luar dugaan, alih-alih ...
Tasawuf, Menemukan Bahagia Saat Sedih Melanda
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Tasawuf, Menemukan Bahagia Saat Sedih Melanda

Suatu hari, ketika Nabi Muhammad SAW sedang berwudlu, datanglah seekor burung elang yang mencuri sepatu beliau dan membawanya terbang. Dari suatu ketinggian, burung elang itu menggerakkan sepatu dan keluarlah ular hitam dari dalamnya. Kemudian burung elang mengembalikan sepatu yang tadi dicurinya. Dengan begitu, Nabi Yang Mulia selamat dari gigitan ular. Cerita ini dimuat di dalam kitab Matsnawi jilid 3, bait ke 3238-3254. Karim Zamani dengan mengutip kitab Ahadits Matsnawi, menyebutkan sumber cerita ini juga terdapat dalam kitab Dalailun Nubuwwah jilid 1 dan Ihyaul Ulum jilid 2. Terlepas dari sanadnya, Rumi sering berpesan kepada pembacanya untuk lebih berfokus kepada batin sebuah cerita.  Berbeda dengan banyak fragmen cerita dalam matsnawi yang sering menyimpan pesan ...
Ngaji Rumi: Luka adalah Pintu Masuk Cahaya
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Luka adalah Pintu Masuk Cahaya

Sekitar tahun 1998 saya kehilangan passport setelah tidak jadi berangkat ke Syria. Di tahun 2002 saat akan berangkat ke Iran, saya mengajukan permohonan passport baru, tapi berhubung data saya masih ada jadi tidak dikabulkan. Saya harus mengurus surat kehilangan dan berbagai prosedur yang berbelit-belit (pada masa itu ya), padahal saya sudah harus segera berangkat. Saya juga menghubungi lembaga yang dulu akan mengirim saya ke Syria, tapi mereka mengatakan passport itu tidak ada pada mereka. Setelah seharian dengan hati ‘hancur’ gagal menguasahakan pembuatan passport, malamnya saya I’tikaf mengikuti acara doa Nisfu Say’ban di sebuah masjid di Bandung. Di situ lah, saya benar-benar merasa terdesak dan tak mampu melakukan apapun selain mengharap pertolongan Tuhan. Ajaibnya, ...
Musik dan Batin Semesta
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Musik dan Batin Semesta

Membaca kitab Matsnawi Rumi selalu saja menemukan pesan yang segar. Seperti hari-hari ini, saat saya membaca bait ke 733 dan 734 Matsnawi Rumi. Di dalam puisi itu dijelaskan bagaimana keterhubungan antara kita dengan batin semesta. Sebagaimana pendapat para filsuf klasik Yunani (seperti penemuan Pythagoras), Rumi memercayai lahirnya nada-nada musik awal terinspirasi dari pergerakan bintang. Bahkan, lebih jauh Rumi meyakini bahwa suara yang keluar dari berbagai alat musik pada hakikatnya merupakan cerminan atau pantulan dari simfoni batin semesta.  Barangkali, filosofi inilah yang mendorong Rumi melahirkan metode “Sama” atau Whirling. Rumi sebenarnya ingin menyamakan frekuensi antara gerak dan bunyi yang ada dalam diri kita dengan batin semesta. Karena sebagaimana disebu...