Kamis, Juni 30

Tag: afifah ahmad

Ghazal 631: Harapan yang Selalu Bersemayam
Ghazaliyat, Ngaji

Ghazal 631: Harapan yang Selalu Bersemayam

Wahai jiwa-jiwa, jangan putus asa, harapan itu adaHarapan yang datang dari tempat tak terduga Nyalakan lentera asamu, meski jiwamu kehilangan Maryam Ia yang dengan cahayanya telah melangitkan Isa Duhai jiwa yang terbelenggu dalam jeruji, teruslah bersemangat Lihatlah bagaimana sang raja membebaskan Yusuf dari penjara Harapan itu juga yang menyembuhkan Yakub dari kebutaan Dan menyampaikan Zulaikha pada Yusuf, kekasihnya Duhai malam yang kau penuhi dengan lantunan “Ya Rab…Ya Rab!” Pada setiap seruan nama Tuhan, ada limpahan rahmatNya Oh…luka lama yang menyayat, akan datang obat penawarnya Dan gembok yang terpatri kuat, telah ada kunci pembukanya Seperti mereka yang berpuasa akan sampai pada masa berbuka Maka reguklah kenikmatan...
Review Buku Ngaji Rumi oleh Novelis
Buku, Buku Kontemporer, Info, Ngaji, Resensi Ngaji Rumi

Review Buku Ngaji Rumi oleh Novelis

Siapa yang tidak kenal tokoh melegenda bernama Jalaluddin Rumi. Adalah penyair sufi dari Balkh yang karya-karyanya begitu membumi. Selalu dijadikan rujukan dan dikaji tidak hanya oleh para ulama, tapi juga seluruh manusia di dunia.  Berbincang tentang Rumi, sama saja berbincang tentang cinta. Sebab karya-karya Rumi memang identik membahas tentang cinta. Cinta yang sebenarnya. Cinta pada kekasih sejati yakni Sang Maha Pemberi.  Contoh kecil syair Rumi tentang konsep cinta: "Dengarkan bagaimana kisah seruling ini, yang mengaduh rindu karena keterpisahannya." Menurut Jalaluddin Rumi, suara syahdu yang mengalun dari seruling, adalah nyanyian kerinduan sepotong bambu yang terpisah dari rumpunnya. Rumi memaknai filosofi bambu ini sebagai perjalanan hidup manu...
Hidup Lebih Indah karena Misteri Hari Esok
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Hidup Lebih Indah karena Misteri Hari Esok

Alkisah, seorang pemuda datang ke hadapan Nabi Musa AS. Ia ingin sekali diajarkan bahasa binatang. Awalnya Nabi Musa AS menolak karena tidak akan mendatangkan kebaikan kepadanya, bahkan akan merugikannya. Tapi karena pemuda itu terus mendesak, Nabi Musa pun memenuhi permintaanya dengan syarat ia berani menanggung segala resikonya. Singkat cerita, pemuda itu akhirnya mampu berbahasa ayam dan anjing. Suatu pagi, pemuda itu mendengar percakapan anjing dan ayam miliknya. Ayam memprediksi kalau kerbau milik majikannya akan mati, anjing bersorak gembira karena berarti besok ia akan mendapat jatah makanan lebih. Si pemuda itu segera menjual kerbaunya ke pasar agar dia tidak rugi karena kematian kerbaunya. Hari berikutnya, ayam memprediksi kematian budak majikannya. Pemuda itu juga bertind...
Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF
Buku, Buku Kontemporer, Matsnawi, Resensi Ngaji Rumi

Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF

Ini buku yang sangat luar biasa. Penulisnya memoles suasana kebatinan pembacanya untuk menelusuri Rumi, dengan melumuri  bingkai dan tafsir tematik atas karya-karya Rumi. Pandangan Rumi diurai dalam babakan Konsep Cinta dan Manusia, Etika Sosial, Toleransi, Perdamaian dan Beribadah dengan Gembira. Dan ada satu tema yang sangat kontekstual serta kekinian, yakni Perempuan dan Kesetaraan.  Di bab Perempuan dan Kesetaraan (halaman 61), penulis menyajikan:  Perempuan adalah pantulan cahaya Ilahi, bukan hanya yang dicintai.  Tidak, konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan pencipta.  (Rumi, Matsnawi Jilid 1, bait 2436) Para pengkaji Rumi menyebut, inilah puisi yg menggambarkan puncak tertinggi penghormatan Rumi kepada perempuan. Rumi melihat begitu pe...
Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan

Lukisan Farshician Alkisah, ada seorang perempuan yang setiap kali melahirkan, tidak berselang lama anaknya meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Ia amat berduka dan menggugat kenyataan pahit hidupnya. Lalu ia mendatangi seorang bijak bestari dan mencurahkan segala keresahannya. Sampai suatu malam, perempuan ini bermimpi melihat sebuah taman yang begitu indah. Belum selesai ia mengaguminya, sebuah istana terlihat di depan matanya. Nama perempuan itu tertulis di atas pintu. Ia memasuki istana tersebut dan melihat anak-anaknya yang sudah meninggal sedang berkumpul di sana. Kesaksian ini membukakan pintu batinnya pada keagungan dan keluasan rahmat Tuhan.  Kisah yang dituturkan oleh Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi juz 3 bait 3399-3418 ini tentu tidak asing lagi da...
Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin

Foto: Lukisan Farshician Bertema Setayash atau Pujian Kisah Nabi Musa as dan istrinya, Shafura sudah sering kita dengar dengan beragam tafsirannya. Dari yang menggambarkan cerita romantisme perjumpaan dua insan yang berakhir pada pernikahan indah, sampai penafsiran tentang perlunya perempuan bersikap iffah atau menjaga diri. Jarang sekali ada yang memotret relasi keduanya dengan pendekatan sufistik. Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi jilid 6 mencoba menjelaskan relasi tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Rumi memandang Shafura sebagai seorang perempuan yang memiliki kematangan intelektual maupun spiritual. Karena melalui pertemuan singkat dengan Nabi Musa as, ia mampu menganalisa dan membuat keputusan yang tepat sehingga terjadilah pertemuan antara Nabi Musa as dan ...
Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat di DM oleh beberapa orang yang bertanya tentang bagaimana pandangan Rumi terhadap Sayidina Ali bin Abi Thalib. Nah, kebetulan mumpung hari ini tanggal 13 Rajab, hari lahir Sayidina Ali, saya akan mengutip satu dua bait puisi Rumi tentang Sayidina Ali. Oya, sebelumnya perlu diketahui bahwa Rumi juga banyak mengungkap secara proporsional keutamaan tiga khalifah lainnya. Mungkin di lain waktu juga akan saya sampaikan. *** Dalam sebuah peperangan, Sayidina Ali bin Abi Thalib sedang bertarung dengan seorang jawara tanah Arab, sampai pada satu titik Sayidina Ali dapat mengalahkan dan membuatnya terjatuh tak berdaya. Karena merasa jiwanya tak akan selamat, untuk melampiaskan rasa bencinya, musuh itu meludahi sayidina Ali. Di luar dugaan, alih-alih ...
Resensi Ngaji Rumi: Cinta sebagai Jalan menuju Kebahagiaan
Buku Kontemporer, Resensi Ngaji Rumi

Resensi Ngaji Rumi: Cinta sebagai Jalan menuju Kebahagiaan

Saya cukup beruntung menjemput buku ini secara langsung dari Achmad Fathurrahman, orang yang terlibat langsung dalam proses penerbitannya. Momen ini saya manfaatkan untuk bertanya alasan dia berani menerbitkan buku ini. Ia tanpa ragu menjawab, “Ini adalah buku langka tentang tasawuf yang menjelaskan puisi-puisi Rumi dengan merujuk pada sumber aslinya yakni bahasa Persia.”  Sebagaimana diketahui, Rumi menuliskan puisi-puisi dalam Matsnawinya menggunakan bahasa Persia. Sementara, karya-karya sebelumnya tentang Rumi umumnya mengacu pada sumber berbahasa Arab atau Inggris. Penguasaan Afifah Ahmad sebagai penulis terhadap bahasa Persia menjadi poin istimewa dalam buku ini. Dengan demikian, referensi yang digunakannya sangat otoritatif. Di tangan Afifah, puisi-puisi Rumi menemuka...
Surat Rumi untuk Menantunya, Fathimah Khotun
Ngaji, Telaah

Surat Rumi untuk Menantunya, Fathimah Khotun

Lukisan Farshician Pagi ini saya teringat lagi potongan surat Rumi kepada menantunya, Fathimah Khotun. Surat yang dimuat dalam buku Manaqib Aflaki dan disinggung Zahra Thaheri dalam buku “Kehadiran Perempuan dalam Literatur Tasawuf” juga dimuat ulang dalam buku biografi Rumi karya Badiozzaman Foruzanfar. **** Aku bersumpah dengan menyebut nama Tuhan, Jika kamu kecewa atas perilaku putraku, ketahuilah Aku jauh lebih bersedih. Dan Aku turut merasakan apa yang ada dalam pikiranmu… Jika anak-ku menyakitimu, yakinlah aku akan menghapus namanya dalam hatiku, aku tidak akan menjawab salamnya, dan aku tidak akan melayat jenazahnya ketika meninggal.  Jangan bersedih, semoga Tuhan selalu bersama-mu.  *** Surat yang indah, sebuah upaya perlindungan untuk para pere...
Resensi Buku: Rumi, Persia, dan Tradisi Ngaji
Buku, Buku Kontemporer, Resensi Ngaji Rumi

Resensi Buku: Rumi, Persia, dan Tradisi Ngaji

Sumber: https://iqra.id/rumi-persia-dan-tradisi-ngaji-235669/ Bait-bait syair cinta Jalaluddin Rumi (Rumi) kini sepertinya tidak lagi bagai kisah seruling yang terpisah. Ia yang pada awalnya ditulis lewat bahasa Persia sekarang sudah bisa dinikmati lewat karya Afifah Ahmad berjudul Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-Ayat Sufistik. Arkian, buku ini telah menghadirkan pengalaman baru bagi siapapun yang ingin mengaji, mengkaji, atau sekadar menikmati keindahan bahasa atau bahasa keindahan dari Rumi. Lebih dari itu, Afifah Ahmad juga menyajikan syair-syair Rumi berkelindan dengan berbagai persoalan hari ini dengan bahasa yang renyah dan lugas. Tidak berlebihan jika kemudian banyak tokoh yang memberikan apresiasi luar biasa terhadap buku ini, seperti dari KH. Ulil Absar Abdalla, ...