Kamis, April 25

Tag: Jalaluddin Rumi

Ngaji Rumi: Antara Diogenes, Rumi, dan Puasa
Ngaji, Tak Berkategori, Telaah

Ngaji Rumi: Antara Diogenes, Rumi, dan Puasa

Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian lusuh, menebarkan butiran pasir di atas jembatan yang penuh tumpukan es, sisa salju semalaman. Kondisi jembatan jadi tidak terlalu licin dan orang-orang bisa melintas dengan lebih nyaman. Di lain musim, ia mengambil adukan semen dan pasir untuk menambal lubang-lubang kecil yang meleleh akibat sengatan matahari musim panas. Atau pernah juga saya melihatnya sedang menyapu di pinggiran jembatan. Awalnya, saya mengira lelaki itu adalah petugas kota yang tidak berpakaian seragam. Namun ternyata sehari-hari, ia memang tinggal di sudut jembatan. Di pagi buta, saya pernah memergokinya sedang tertidur lelap bersandar pada sebuah ransel. Hampir tiap hari saya melewati jembatan itu, rute rumah-kampus, membuat saya mulai mengamati sosok lelaki misterius...
Ngaji Rumi: Belajar dari Para Pelukis Yunani
Buku, Buku Kontemporer, Matsnawi, Ngaji

Ngaji Rumi: Belajar dari Para Pelukis Yunani

Alkisah, sekelompok orang China dan Yunani berdebat tentang siapa yang paling mahir dalam melukis. Keduanya saling beradu argumen. Raja yang berkuasa saat itu, menantang kedua kelompok untuk membuktikan perkataan mereka dengan melangsungkan lomba lukis. Lomba diadakan di tempat yang sama, masing-masing peserta menempati ruang yang memiliki pintu saling berhadapan. Mereka bekerja di ruang masing-masing yang disekat oleh tirai.  Para pelukis China mulai mempersiapkan berbagai bahan terbaik, ia miminta pada raja untuk menyediakan seratus warna. Mereka mulai mengeluarkan segala kemahirannya dalam melukis. Sedangkan di kubu pelukis Yunani, tak terlihat pergerakan yang berarti. Mereka hanya sibuk membersihkan dinding kaca dengan seksama. Ketika keduanya telah selesai dengan pekerjaa...
Menemukan Rumi dalam Puisi Sohrab Sepehri
Buku Kontemporer, Ngaji, Sastrawan Sufistik, Tak Berkategori, Telaah

Menemukan Rumi dalam Puisi Sohrab Sepehri

Hidup tidak pernah kosong… ada kasih sayang, ada apel, ada iman. Ya, selama bunga shaghayegh (Anemone) masih merekah hidup akan terus berjalan… (Sohrab, Sepehri) Puisi di atas begitu popular di tengah masyarakat Iran. Nama Sohrab sudah sering saya dengar, bahkan secara tidak sengaja saya pernah juga mengunjungi makamnya yang berada di kota Kashan. Ya, tidak sengaja, karena makamnya memang berada di area komplek seorang ulama yang saat itu saya ziarahi.  Setelah bertahun lamanya, nama Sohrab kembali saya akrabi di kelas “Sastra Kontemporer Persia”. Ketika larik-larik puisinya dibacakan di ruangan, saya merasakan ada yang terhenyak di kedalaman sana. Apalagi, saat mendaras perjalanan hidupnya. “Ah…dia memang bukan penyair biasa”, begitu hati kecil saya bersu...
Mustafa, Menyatukan Umat dengan Cinta
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Mustafa, Menyatukan Umat dengan Cinta

Lukisan Farshician Dalam naungan cahaya Mustafa dendam masa lalu menjadi sirna Ia persaudarakan kaum yang bertikai laksana butiran anggur dalam satu tangkai (Matsnawi, juz 2, bait 3714-3715) Sungguh indah Rumi melukiskan salah satu berkah kehadiran Rasulullah SAW sebagai pemersatu umat. Konteks puisi yang ditulis Rumi dalam kitab Matsnawi ini kembali pada salah satu fase sejarah menjelang hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke kota Madinah. Sejarah mencatat, di Madinah pra Islam, ada dua kabilah terkemuka, yaitu Aus dan Khazraj yang meskipun berasal dari satu rumpun tetapi mereka selalu bertikai dan berperang. Berbagai upaya pernah dilakukan untuk meredakan pertikaian tersebut, tapi tak pernah berhasil. Sampai akhirnya datanglah sosok Rasul mempersaudarakan kembali merek...
Jangan Mendahului Takdir
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Jangan Mendahului Takdir

Alkisah, ada salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sadang sakit keras, Rasul lalu mengajak para sahabat lain untuk menjenguknya. Dari keterangan orang terdekat, si sakit terus mengaduh dan meraung menahan rasa sakit. Begitu mengetahui Rasul datang, ia berusaha tegar, meski tak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Rasul bertanya kepadanya: “Apakah Anda berdoa sesuatu yang menyebabkan seperti ini?” Setelah mengingat-ingat, akhirnya ia bercerita: “Setelah saya bertaubat dan menjadi pengikut Anda, saya berdoa kepada Tuhan, jika saya berbuat dosa, berilah sangsi di dunia ini agar kelak selamat di akhirat”. Nabi yang mulia kemudian memberikan nasihat kepadanya agar tidak lagi berdoa demikian. Kata Nabi “Mintalah kebaikan di dunia maupun di akhirat”. Kisah ini disampaikan secara pan...
Potret Asyura dalam Puisi Rumi: Analisis Ghazal 2707
Ghazaliyat, Ngaji, Telaah

Potret Asyura dalam Puisi Rumi: Analisis Ghazal 2707

Gambar: lukisan Farshician Peristiwa Karbala sejatinya memang milik seluruh umat Islam dari kelompok dan mazhab apapun. Hampir seluruh sejarawan yang menulis sejarah Islam, tidak melewatkan untuk mencatat tragedi Karbala. Bahkan peristiwa ini telah merembas dalam banyak karya sastra, termasuk syair dan puisi. Banyak penyair yang turut mengungkapkan ekspresi dukanya lewat puisi, tak terkecuali Jalaluddin Rumi, penyair legendaris yang puisi-puisinya telah memberi harapan pada dunia. Rumi melalui puisinya baik dalam Matsnawi maupun Divan-e Shmas banyak menyebut tragedi Karbala. Setidaknya ada tiga Ghazal yang langsung berhubungan dengan peristiwa Asyura ini, yaitu ghazal ke 230, 338, dan 2707. Dalam ghazal 230 digambarkan simbolisasi bahwa Husein ibarat “del” atau cinta dan Yazid seper...
Ghazal 214: Dari Perjalanan Ufuqi menuju Perjalanan Anfusi
Ngaji, Tak Berkategori, Telaah

Ghazal 214: Dari Perjalanan Ufuqi menuju Perjalanan Anfusi

Mengapa puisi Rumi begitu dicintai berbagai kalangan, tua-muda tanpa kenal Batasan? Tentu selain pilihan diksinya yang indah dan menyentuh sisi terdalam manusia, pesan-pesannya juga selalu relate dengan persoalan hidup, bahkan sampai hari ini. Misalnya, Ghazal 214 ini yang berbicara tentang pentingnya ‘bergerak’ dan melakukan perjalanan.  Rumi memulai bait-bait pertama dengan menunjukkan beberapa contoh di alam, melalui gerakan yang dilakukkannya, mereka memberikan kebermanfaatan bagi semesta; matahari yang berotasi, air yang mengalir, udara yang berhembus, bahkan api yang menjilat. Nampaknya, ilustrasi sederhana ini untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih jauh lagi tentang keberhasilan orang-orang besar yang dihasilkan melalui pergerakan dan perjalanan panjang. T...
Munuju Pendidikan Berbasis Cinta: Tafsir Ghazal 132
Buku Kontemporer, Ghazaliyat, Ngaji, Telaah

Munuju Pendidikan Berbasis Cinta: Tafsir Ghazal 132

Beberapa hari lalu, tepatnya pada 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Di hari yang sama, secara kebetulan, masyarakat Iran juga sedang merayakan Hari Guru. Toko-toko bunga di sepanjang Valiashr, jalan menuju kampus saya, dikerumini para pembeli. Di tengah wajah-wajah ceria mahasiswa yang membawa setangkai bunga untuk dosen mereka, saya teringat sebuah obrolan dengan seorang dosen tentang betapa hari ini makna pendidikan telah mengalami pendangkalan. Agaknya, ini memang sudah menjadi tantangan pendidikan di tingkat global. Alasan keinginan untuk segera lulus dan mendapatkan pekerjaan mapan, melahirkan cara-cara instan dan menghindari proses panjang yang dianggap melelahkan. Lembaga pendidikan seringkali hanya dipandang sebagai tempat untuk menghasilkan lul...
Makna Lebaran bagi Para Pecinta
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Makna Lebaran bagi Para Pecinta

Seorang arif dan pecinta dapat berlebaran setiap hari, tak perlu menanti setahun sampai eid datang kembali. Sungguh indah potongan puisi Maulana Jalaluddin Rumi yang ia tulis dalam ghazal ke-583 kitab Divan-e Kabir. Rumi mengajak kita untuk melihat apapun dari sudut pandang seorang pecinta, termasuk ketika memaknai fenomena keagamaan seperti hari Raya Idul Fitri atau yang biasa kita sebut sebagai lebaran. Mengapa Rumi berpandangan seorang pecinta dapat berlebaran setiap hari? Bagaimana sebenarnya makna lebaran sendiri menurut Rumi? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada hal yang mungkin perlu dicatat, Rumi bukan menolak pengertian lebaran sebagaimana yang dipahami oleh kaum muslimin secara umum. Dalam salah satu potongan puisinya, ghazal ke-236, Rumi mengungkapkan kebahagia...
Ketika Nabi Muhammad SAW Menunjuk Pemimpin Belia
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ketika Nabi Muhammad SAW Menunjuk Pemimpin Belia

Lukisan Farshician Alkisah, di hari-hari terakhir kehidupannya, Rasulullah mempersiapkan sebuah pasukan untuk menghadapi ancaman serangan Kekaisaran Romawi. Beliau menunjuk seorang komandan yang masih belia, berusia sekitar 18 tahun, bernama Usamah bin Zaid. Dalam barisan pasukan tersebut, hadir para prajurit dan komandan senior dari kalangan Muhajirin. Penunjukan ini sempat menimbulkan protes sebagian kaum muslimin, mereka berharap Nabi dapat menunjuk seorang komandan yang lebih berpengalaman. Rasul SAW kemudian meluruskan pandangan mereka, betapa banyak anak-anak muda yang memiliki kebijaksanaan dan  kematangan berpikir, bahkan melampaui mereka yang secara usia lebih tua. Usia bukanlah ukuran kematangan seseorang, namun yang terpenting adalah pola pikir dan kemampuan. *** ...