Jumat, Desember 2

Tag: Jalaluddin Rumi

Cinta, Nama Lain Tuhan
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Cinta, Nama Lain Tuhan

“Anda tahu kenapa malaikat diperintahkan sujud kepada Adam?”, tanya seorang pengajar dalam sebuah kelas Rumi. Hening. Semua memilih untuk merenungkan pertanyaan itu lebih dalam. “Karena pada diri Adam, ada manivestasi Tuhan”, akhirnya pertanyaan itu dijawabnya sendiri. Ya, tidak hanya pada Adam, Tuhan hadir dalam setiap ciptaannya dan Tuhan amat menyayangi seluruh makhluknya. *** Potongan dialog tersebuat mengawali kelas sorogan kitab Matsnawi yang saya ikuti sejak tahun 2018. Ada yang terasa berbeda pada pertemuan sore itu. Mungkin karena kami akan menamatkan kitab ketiga Matsnawi. Atau mungkin juga karena bait-bait di akhir kitab ketiga mengekspresikan begitu banyak ruang cinta. Sejatinya, hampir seluruh puisi Rumi memang menyimpan pundi-pundi cinta, namun terkadang di beb...
Tangis Kerinduan Sebatang Kurma untuk Rasul yang Mulia
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Tangis Kerinduan Sebatang Kurma untuk Rasul yang Mulia

Lukisan Farshician tentang Miraj Alksiah, di masjid Nabawi, ada sebuah tiang terbuat dari batang pohon kurma yang biasanya menjadi tempat bersandar Rasulullah SAW ketika berkhutbah. Karena jamaah umat Islam mulai ramai, seorang sahabat berinisiatif membuatkan Baginda Nabi mimbar agar jamaah dari berbagai sudut tetap dapat melihat dan mendengar Nabi berkhutbah. Suatu hari, Nabi mendengar tangis kesedihan dari arah tiang tersebut. Rupanya ia bersedih karena kerinduan kepada Sang Nabi yang tidak lagi bersandar kepadanya. Lalu Rasulullah SAW datang mendekat dan membisikkan sesuatu yang dapat meredakan kesedihannya.  *** Kisah ini disampaikan panjang lebar oleh Maulana Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi jilid pertama bait 2113-2124. Menurut Foruzanfar, penulis Ahadits Matsn...
Kisah Hilal, Budak Penjaga Ternak yang Dimuliakan Nabi
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Kisah Hilal, Budak Penjaga Ternak yang Dimuliakan Nabi

Hilal adalah salah seorang sahabat Nabi. Ia budak yang bekerja mengurus hewan ternak di rumah salah seorang saudagar. Suatu ketika Hilal jatuh sakit. Tak ada seorang pun yang mencari tahu kabarnya, bahkan sang majikan sekalipun. Hilal tetap bekerja dan tinggal di dekat kandang ternak meski ia sudah sembilan hari sakit. Sampai akhirnya, melalui perantara wahyu, Rasulullah SAW mengetahui kondisinya.  Beliau segera datang menjenguk Hilal. Begitu tahu Baginda Nabi mendatangi rumahnya, saudagar, tempat Hilal tinggal, terlihat suka cita menyambutnya. Namun, Rasulullah segera memetahkan harapan saudagar itu dengan mengatakan: “Aku datang ke sini bukan untuk bertemu denganmu, tapi untuk mengunjungi Hilal”. Sang Nabi segera menuju kandang ternak yang gelap, beliau bertemu dan mendekap ...
Ngaji Rumi: Pesan Nabi tentang Jalan Kesunyian
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Pesan Nabi tentang Jalan Kesunyian

Foto: Lukisan Farshichian Dalam sebuah seminar bertema ”Sastra Sufistik” di UIN Bandung, saya pernah menjelaskan, salah satu yang membuat puisi Rumi abadi karena terinspirasi dari kitab-kitab langit, termasuk hadis Nabi. Ada begitu banyak sabda Nabi yang dikutip Rumi dengan beragam metode penyampaian, baik kutipan langsung redaksi hadis maupun kandungan maknanya. Ciri puisi Rumi yang mengutip sabda Nabi, biasanya dimulai dengan kalimat گفت پیغامبر atau Nabi bersabda. Salah satu kutipan hadis dalam puisi Rumi yang menurut saya menarik, ada dalam bait ke 823-827 jilid 5 kitab Matsnawi Maknawi. Di sana Rumi mengulang serta memberikan penjelasan tentang pesan Nabi untuk menyayangi dan menemani tiga tipe kelompok. Siapa saja mereka?  گفت پیغامبر که رحم آرید بر جان من کان غ...
Ghazal 631: Harapan yang Selalu Bersemayam
Ghazaliyat, Ngaji

Ghazal 631: Harapan yang Selalu Bersemayam

Wahai jiwa-jiwa, jangan putus asa, harapan itu adaHarapan yang datang dari tempat tak terduga Nyalakan lentera asamu, meski jiwamu kehilangan Maryam Ia yang dengan cahayanya telah melangitkan Isa Duhai jiwa yang terbelenggu dalam jeruji, teruslah bersemangat Lihatlah bagaimana sang raja membebaskan Yusuf dari penjara Harapan itu juga yang menyembuhkan Yakub dari kebutaan Dan menyampaikan Zulaikha pada Yusuf, kekasihnya Duhai malam yang kau penuhi dengan lantunan “Ya Rab…Ya Rab!” Pada setiap seruan nama Tuhan, ada limpahan rahmatNya Oh…luka lama yang menyayat, akan datang obat penawarnya Dan gembok yang terpatri kuat, telah ada kunci pembukanya Seperti mereka yang berpuasa akan sampai pada masa berbuka Maka reguklah kenikmatan...
Review Buku Ngaji Rumi oleh Novelis
Buku, Buku Kontemporer, Info, Ngaji, Resensi Ngaji Rumi

Review Buku Ngaji Rumi oleh Novelis

Siapa yang tidak kenal tokoh melegenda bernama Jalaluddin Rumi. Adalah penyair sufi dari Balkh yang karya-karyanya begitu membumi. Selalu dijadikan rujukan dan dikaji tidak hanya oleh para ulama, tapi juga seluruh manusia di dunia.  Berbincang tentang Rumi, sama saja berbincang tentang cinta. Sebab karya-karya Rumi memang identik membahas tentang cinta. Cinta yang sebenarnya. Cinta pada kekasih sejati yakni Sang Maha Pemberi.  Contoh kecil syair Rumi tentang konsep cinta: "Dengarkan bagaimana kisah seruling ini, yang mengaduh rindu karena keterpisahannya." Menurut Jalaluddin Rumi, suara syahdu yang mengalun dari seruling, adalah nyanyian kerinduan sepotong bambu yang terpisah dari rumpunnya. Rumi memaknai filosofi bambu ini sebagai perjalanan hidup manu...
Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF
Buku, Buku Kontemporer, Matsnawi, Resensi Ngaji Rumi

Review Ngaji Rumi dari Ketua LSF

Ini buku yang sangat luar biasa. Penulisnya memoles suasana kebatinan pembacanya untuk menelusuri Rumi, dengan melumuri  bingkai dan tafsir tematik atas karya-karya Rumi. Pandangan Rumi diurai dalam babakan Konsep Cinta dan Manusia, Etika Sosial, Toleransi, Perdamaian dan Beribadah dengan Gembira. Dan ada satu tema yang sangat kontekstual serta kekinian, yakni Perempuan dan Kesetaraan.  Di bab Perempuan dan Kesetaraan (halaman 61), penulis menyajikan:  Perempuan adalah pantulan cahaya Ilahi, bukan hanya yang dicintai.  Tidak, konon dia bukan makhluk biasa, dia bahkan pencipta.  (Rumi, Matsnawi Jilid 1, bait 2436) Para pengkaji Rumi menyebut, inilah puisi yg menggambarkan puncak tertinggi penghormatan Rumi kepada perempuan. Rumi melihat begitu pe...
Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Ngaji Rumi: Pengalaman Perempuan, Sebuah Jalan menuju Tuhan

Lukisan Farshician Alkisah, ada seorang perempuan yang setiap kali melahirkan, tidak berselang lama anaknya meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi berulang kali. Ia amat berduka dan menggugat kenyataan pahit hidupnya. Lalu ia mendatangi seorang bijak bestari dan mencurahkan segala keresahannya. Sampai suatu malam, perempuan ini bermimpi melihat sebuah taman yang begitu indah. Belum selesai ia mengaguminya, sebuah istana terlihat di depan matanya. Nama perempuan itu tertulis di atas pintu. Ia memasuki istana tersebut dan melihat anak-anaknya yang sudah meninggal sedang berkumpul di sana. Kesaksian ini membukakan pintu batinnya pada keagungan dan keluasan rahmat Tuhan.  Kisah yang dituturkan oleh Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi juz 3 bait 3399-3418 ini tentu tidak asing lagi da...
Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Shafura: Istri Nabi Musa as yang Memilih Mata Batin

Foto: Lukisan Farshician Bertema Setayash atau Pujian Kisah Nabi Musa as dan istrinya, Shafura sudah sering kita dengar dengan beragam tafsirannya. Dari yang menggambarkan cerita romantisme perjumpaan dua insan yang berakhir pada pernikahan indah, sampai penafsiran tentang perlunya perempuan bersikap iffah atau menjaga diri. Jarang sekali ada yang memotret relasi keduanya dengan pendekatan sufistik. Jalaluddin Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi jilid 6 mencoba menjelaskan relasi tersebut dengan sudut pandang yang berbeda. Rumi memandang Shafura sebagai seorang perempuan yang memiliki kematangan intelektual maupun spiritual. Karena melalui pertemuan singkat dengan Nabi Musa as, ia mampu menganalisa dan membuat keputusan yang tepat sehingga terjadilah pertemuan antara Nabi Musa as dan ...
Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi
Matsnawi, Ngaji, Telaah

Sayidina Ali bi Abi Thalib dalam Kitab Matsnawi Maknawi

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat di DM oleh beberapa orang yang bertanya tentang bagaimana pandangan Rumi terhadap Sayidina Ali bin Abi Thalib. Nah, kebetulan mumpung hari ini tanggal 13 Rajab, hari lahir Sayidina Ali, saya akan mengutip satu dua bait puisi Rumi tentang Sayidina Ali. Oya, sebelumnya perlu diketahui bahwa Rumi juga banyak mengungkap secara proporsional keutamaan tiga khalifah lainnya. Mungkin di lain waktu juga akan saya sampaikan. *** Dalam sebuah peperangan, Sayidina Ali bin Abi Thalib sedang bertarung dengan seorang jawara tanah Arab, sampai pada satu titik Sayidina Ali dapat mengalahkan dan membuatnya terjatuh tak berdaya. Karena merasa jiwanya tak akan selamat, untuk melampiaskan rasa bencinya, musuh itu meludahi sayidina Ali. Di luar dugaan, alih-alih ...