Kamis, Desember 2

Review Buku: Rumi, Syair Cinta untuk Semesta

Saat menerima kiriman buku ini, tak perlu menunggu lama untuk menyantap isi bukunya. Mulai dari covernya hingga halaman pertama terus menyeret saya untuk menelusuri isinya, dan mencari ulasan (pengantar) penulisnya tentang buku ini.

Tulisan Afifah Ahmad dalam beberapa waktu ini telah mempengaruhi pikiran saya, bagaimana ia membawa pembacanya untuk menikmati makna dari setiap kalimat yang diungkapkannya. Dan buku ini salah satunya yang menjadi target saya untuk bisa membaca secepatnya.

Afifah Ahmad yang saat ini bermukim di negeri para Mullah, telah mengantarnya bersinggungan langsung dengan teks-teks asli syair-syair Rumi dalam Bahasa Persia. Sehingga, semakin membuat buku ini demikian menarik, kajian yang bersumber dari mata air langsung kemudian diulas dengan bahasa yang lebih segar.

Perjumpaan saya dengan pikiran Afifah Ahmad tertambat di dalam buku ini, selama ini pemahaman saya belum mampu menyentuh secara mendalam akan hakikat dari cinta Rumi. Namun buku ini, mengantarkan saya untuk bisa menyerap aroma cinta syair syair Rumi dengan baik, yang sempat menghilang wanginya dari alam pikiran saya. Afifah dengan  kepiawaiannya telah mengungkap pesan cinta dari bait-bait syair Rumi.

Mengapa ngaji Rumi?

Karena mengaji telah membuka kembali kenangan penulis di masa kecilnya, saat masih berkutat dengan huruf hijaiyah yang mengenalkannya dengan kalam Ilahi. Dan ini juga terilhami dari pengalaman penulis yang mengikuti kelas-kelas kajian Rumi dengan metode pesantren yang membaca dan mebahas baris demi baris matan kitabnya.    

Mengisah tentang Rumi, pikiran kita akan mengingatnya sebagai seorang penyair sufiistik legendaris. Rumi telah membuka mata kita untuk memahami arti cinta kepada Sang Maha Cinta. Walau sebenarnya, Rumi mengatakan bahwa tak ada  kata yang mampu melukiskan keindahan cinta. Tak seorang penulis hebat sekalipun mampu mengolah kata untuk bisa menuliskan keindahan cinta .

Buku ini mencoba memetakan hakikat cinta yang tertuang dalam bait syair Rumi, walau Rumi sendiri tidak pernah mengungkap secara eksplisit apa itu cinta sejati. Namun ia terlukis dengan indah dalam senandung merdu itu.

Tak ada sesuatu di dunia ini yang bergerak tanpa motif. Hanya jasad dan roh para pencinta yang berjalan tanpa pamrih. (hal. 33)

Sesuatu yang tak pernah berharap pamrih maka di situlah cinta sejati bermukim. Karena cinta sejati itu menggerakkan.

Karena cinta, pahit menjadi manis

Karena cinta, tembaga menjadi emas

Karena cinta, keruh berganti jernih

Karena cinta, derita berganti bahagia

Karena cinta, mampu hidupkan yang tiada

Karena cinta, raja rela menjadi hamba sahaya. (Hal. 33)

Di sisi lain yang cukup menyedot perhatian saya adalah bagaimana Afifah Ahmad mengungkap tentang pandangan Rumi terhadap perempuan. Ia melihat perempuan berada pada kedudukan yang sangat mulia.

Rumi mengibaratkan perempuan adalah pantulan cahaya Ilahi, bukan hanya sosok yang dicintai, ia buka sekadar pendamping tetapi ia adalah teman perjalanan spiritual.

Inilah penghormatan terbesar Rumi terhadap perempuan, saat ia menuangkan dalam bait-bait syairnya:

Hikmah Tuhan dalam qadha dan qadarnya

Ia jadikan kita para pecinta satu sama lainnya

Seluruh bagian alam tercipta karena ketetapannya

Berpasangan dan menjadi para pecinta pasangannya

Seperti langit yang berkata pada bumi

Engkau dan aku ibarat magnet dan besi

Jika langit adalah lelaki maka bumi sebagai perempuan

Setiap butir biji yang jatuh, bumi akan memeluk dan merawatnya

Ia menafsirkan posisi perempuan sebagai manisfetasi Tuhan yang terus tumbuh dan mengoptimalkan potensinya. Ini adalah sebuah ungkapan yang mematahkan pandangan yang memposisikan perempuan sebagai kelas kedua.

Afifah juga membuat catatan penting. Perempuan, setinggi apapun potensi yang dimilikinya sangat bergantung pada kesadaran dirinya, sehingga ia benar-benar mampu mengoptimalkannya.

Di akhir bab, Afifah menuangkan album puisi Rumi dalam Bahasa Persia asli, menjadikan buku ini sebuah karya penting dan menjadi rujukan bagi siapa saja yang berminat dengan kajian Rumi.

Buku yang diulas dengan gaya storytelling yang apik, membuat buku ini tidak jemu untuk dibaca, berbeda dengan buku kebanyakan yang terkesan berat dan kaku. Afifah menyentuh emosi pembaca lewat bahasanya yang lebih ringan sehingga mampu menyelami lautan hikmah dan menemukan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup yang jernih. Segenap cinta untuk semesta dan pemilik cinta seluruhnya.

Soraya Yusuf, Banda Aceh, 10 November 2021

Pernah dimuat di sini: https://sorayayusuf.blogspot.com/2021/11/rumi-syair-cinta-untuk-semesta.html?spref=fb&fbclid=IwAR1bf84DsDAORnch0VRQoettNtWFy-dPWSoczWQz3wcEY8atFnWTOri1wIo&m=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *