Kamis, Juni 30

Musik dan Batin Semesta

Membaca kitab Matsnawi Rumi selalu saja menemukan pesan yang segar. Seperti hari-hari ini, saat saya membaca bait ke 733 dan 734 Matsnawi Rumi. Di dalam puisi itu dijelaskan bagaimana keterhubungan antara kita dengan batin semesta.

Sebagaimana pendapat para filsuf klasik Yunani (seperti penemuan Pythagoras), Rumi memercayai lahirnya nada-nada musik awal terinspirasi dari pergerakan bintang. Bahkan, lebih jauh Rumi meyakini bahwa suara yang keluar dari berbagai alat musik pada hakikatnya merupakan cerminan atau pantulan dari simfoni batin semesta. 

Barangkali, filosofi inilah yang mendorong Rumi melahirkan metode “Sama” atau Whirling. Rumi sebenarnya ingin menyamakan frekuensi antara gerak dan bunyi yang ada dalam diri kita dengan batin semesta. Karena sebagaimana disebutkan dalam teks-teks klasik keagamaan, bahwa bunyi-bunyi yang keluar dari semesta, sesungguhnya adalah pujian-pujian cinta untuk Sang Pencipta. 

Barangkali juga, itulah yang membuat banyak sufi dan arif mampu melahirkan Ghazal-ghazal yang berirama indah dan membius, padahal bisa jadi latar belakang mereka bukan seorang adib. Karena memang jiwanya telah terkoneksi dengan batin semesta. Tidak sedikit juga tokoh sufi yang memahami dan dapat memainkan alat musik.

Saya jadi teringat pada seorang sufi sekaligus musisi abad ke 18 (Dinasti Qajar) bernama Mushtaq Ali Shah yang berasal dari Kerman. Ia tak hanya piawai memainkan Setar (alat petik tradisonal) tapi juga berjasa menambahkan senar (sim) keempat di alat musik tersebut yang kini disebut sanar Mushtaq. Ia gemar melafalkan ayat-ayat al-Quran di mana pun berada. Kadang kebiasannya itu, ia lakukan sambil memetik Sitar. 

Sayangnya, tidak semua orang bisa memahami koneksitas yang sedang dibangun oleh Sang Sufi. Oleh seorang agamawan konservatif saat itu ia dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan menistakan agama. Tubuhnya dirajam di hadapan khalayak, tapi namanya abadi sampai saat ini. Saat saya berkunjung ke kota Kerman, saya melintasi kawasan peristirahatan Mushtaq Ali Shah yang kini banyak dipuja sebagai martir. Makamnya diziarahi orang dari berbagai tempat. 

Sebagaimana Socrates, Suhrawardi, Alhallaj, ia memilih jalan pulang tak biasa. Kesalahan mereka hanya satu, mereka telah terkoneksi dengan batin semesta. 

Ini saya sertakan kutipan langsung puisi Rumi. 

پس حکیمان گفته‌اند این لحنها

از دوار چرخ بگرفتیم ما

Seperti yang dijelaskan para filsuf

Nada-nada musik terinspirasi dari pergerakan bintang

بانگ گردشهای چرخست این که خلق

می‌سرایندش به طنبور و به حلق

Nada-nada yang keluar dari dari alat musik

Pada hakikatnya adalah pantulan dari simfoni langit

(Rumi, Matsnawi, jilid 4, bait 733 dan 734)

Pernah dimuat di sini https://mubadalah.id/ngaji-rumi-musik-dan-batin-semesta/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *