Kamis, April 25

Ngaji Rumi: Puasa dan Seni Mengendalikan Diri

Suatu hari, serombongan orang asing datang ke masjid Nabi dan mereka ingin diterima sebagai tamu. Rasul SAW meminta kepada para sahabatnya untuk menjamu di rumah mereka masing-masing. Sahabat yang hadir memilih tamu untuk diajak pulang hingga tersisa seorang yang bertubuh tinggi besar. Kemudian Rasul mempersilahkannya ke rumah dan menjamunya. Perilaku tamu ini sangat mengejutkan penghuni rumah Rasul.

Pada saat dihidangkan makan malam, ia menyantap seluruh porsi makanan yang sedianya dihidangkan untuk belasan orang. Lalu dengan santai ia pergi ke kamar dan tertidur pulas, sementara seluruh penghuni rumah Nabi, termasuk para pelayan bermalam dengan perut kosong. Seorang pelayan yang tidak menyukai kerakusan tamu itu mengunci kamar dari luar. Tengah malam, tamu tadi bermaksud buang hajat. Ia begitu terkejut saat mengetahui kamarnya terkunci dari luar.

Singkat cerita, terjadilah apa yang tidak diharapkan dan kamar itu menjadi penuh kotoran. Begitu mengetahui situasi yang terjadi, Nabi membuka kunci pintu kamar dengan parlahan agar tamu tak menyadari kehadirannya dan tidak malu. Pagi buta si tamu diam-diam meninggalkan kamar dan pergi menjauh dari rumah Nabi SAW. Seorang pelayan tampak marah ketika masuk kamar dan mendapati kondisi kamar yang begitu kotor. Rasul yang mulia menenangkannya dan berkata ia sendiri yang akan membersihkan kamar itu.

Sementara tamu yang tadi bergegas pergi ternyata harus kembali untuk mengambill barang berharga yang tertinggal. Begitu melihat langsung Nabi SAW membersihkan sendiri kamar tempatnya menginap, badannya terguncang dan tersungkur karena menyaksikan perilaku Nabi yang begitu mulia. Lalu ia berikrar untuk menjadi pengikut Nabi SAW. Malam harinya, Rasul menawarkan untuk menginap kembali di rumahnya. Malam itu pun aneka makanan dihidangkan. Namun kali ini, reaksi tamu sungguh-sungguh berbeda.

***

Kisah ini disampaikan Maulana Jalaluddin Rumi secara panjang lebar, lebih dari 200 bait, dalam jilid 5 kitab Matnsawi Maknawi. Sumber cerita ini menurut penelusuran Farazanfar terdapat juga dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dengan redaksi yang berbeda. Kabilah Bani Hanifah yang tadinya membenci dan memerangi Rasul SAW berhasil dikalahkan. Rasul menawarkan untuk menjadi pengikutnya dan menghidangkan berbagai makanan.

Cerita gubahan versi Rumi memang terasa lebih detail dan hidup. Begitu banyak lapisan hikmah yang dapat diurai. Salah satu yang terpenting, bagaimana Rumi mendeskripsikan perilaku mulia Rasulullah hingga mampu menaklukan mereka yang masih ingkar dengan sentuhan cinta dan kasih sayangnya. Ada begitu banyak catatan sejarah yang dapat dijadikan verifikasi kisah-kisah seperti ini.

Penekanan yang tak kalah penting dari kisah ini, parameter seseorang yang dalam hatinya telah dipenuhi keimanan tulus, dapat menahan diri dan dijauhkan dari sifat tamak. Dalam akhir kisah di atas, tamu yang kembali dihidangkan aneka makanan, hanya mengambil secukupnya dan ia sudah merasa kenyang. Rumi sampai meberikan penjelasan, si tamu tadi tidak sedang berbasa basi, bahkan Rasul SAW juga menawarkan berkali-kali, tapi ternyata keyakinan yang tulus itu pada akhirnya mampu mengontrol diri dari monster ketamakan.

Sifat tamak sendiri sebagaimana dilukiskan dalam kisah di atas tidak hanya memberikan kerugian bagi orang di sekitarnya, bahkan juga dapat menzalimi diri sendiri. Dalam realitas sosial yang kita jumpai, rasa tamak atau berlebihan ingin mengonsumsi dan memiliki sesuatu seringkali berujung pada peristiwa yang mengerikan. Tamak pada jabatan, pada harta, pada popularitas, dan sebagainya. Setiap kita, jika tidak mengasah seni mengendalikan diri, berpotensi sama melahirkan monster-monster tamak dalam diri.

Tuhan, melalui risalah para nabi memberikan berbagai metode dan latihan pengendalian diri. Di dalam Islam, resep yang secara kolosal ditujukan kepada seluruh umat, hadirnya bulan Ramadhan. Setiap kita, dengan tingkatan spiritual apapun dapat belajar bahwa kapasitas perut yang dalam kesaharian mampu menampung segala asupan makanan, namun saat berbuka kita sudah merasa kenyang hanya dengan minum beberapa teguk air dan makan secukupnya. Sebenarnya fenomena apa yang sedang terjadi?

Maulana Jalaluddin Rumi, mencoba mengurai fenomena di atas dengan pendekatan sufistik. Menurutnya, makanan ruh tidak hanya menyegarkan kualitas jiwa kita, tapi juga akan menyempurnakan kondisi tubuh kita. Barangkali, karena makanan orang yang beriftar telah berbaur dengan makanan ruh sehingga ia memberikan dampak luar biasa. Makanan ruh sendiri merupakan zikir, fikir, dan laku baik kita yang menyertai rasa lapar selama berpuasa.

Di akhir kisah, Rumi melantunkan bait-bait puisi dalam bahasa Arab yang syarat dengan pesan mendalam tentang hakikat berpuasa dan menahan diri. Rumi jarang sekali mengutip kalimat Arab, tetapi jika ia melakukan, Rumi ingin pembacanya memberikan perhatian lebih.

یا حریص االبطن عرج هکذا

انما المنهاج تبدیل الغذا

Hai engkau yang tamak, kurangilah makanmu

karena jalan terang itu datang saat kau perbaiki pola makanmu

ایها المحبوس فی رهن الطعام

سوف تنجو ان تحملت الفطام

Wahai yang masih terpenjara oleh kelezatan duniawi

Jika mampu kendalikan, kau akan peroleh keberuntungan

ان فی‌الجوع طعام وافر

افتقدها وارتج یا نافر

Sesungguhnya dalam rasa lapar itu ada makanan yang berlimpah

Hai yang menghindari rasa lapar, berlatihlah, karena di sana ada harapan

Karim Zamani, salah satu penafsir terbaik kitab Matsnawi memberikan catatan menarik tentang makna diksi الفطام atau keberuntungan dalam bait kedua. Dalam pendekatan sufistik istilah الفطام bermakna terhentinya kecenderungan negatif, kemampuan mengendalikan diri, dan memperbaharui kulitas jiwa atau dengan kata lain الفطام berarti kelahiran kedua. Sebuah target yang sangat diharapkan oleh para pejalan. Semoga puasa kali ini, kita bisa lebih semangat melakukan berbagai aktivitas, karena sebuah kesadaran bahwa ada “makanan ruh” yang selalu membersamai kita meraih kelahiran kedua.