Senin, Oktober 18

Ghazal 44: Keluasan Kasih Tuhan

در دو جهان لطیف و خوش همچو امیر ما کجا  **  ابروی او گره نشد گر چه که دید صد خطا

Di dua dunia ini, adakah yang lebih indah dan penyayang dari-Nya, duhai Amir-ku

Ratusan khilaf dan dosa yang kuperbuat, tak membuat-Nya kecewa dan marah

چشم گشا و رو نگر جرم بیار و خو نگر **  خوی چو آب جو نگر جمله طراوت و صفا

Bukalah mata hatimu dan rasakan cinta-Nya, saat kau khilaf bagaimana Ia mendekapmu

Ia yang mengampuni dosa-dosa hambanya, laksana mata air yang jernih dan sejuk

من ز سلام گرم او آب شدم ز شرم او **   وز سخنان نرم او آب شوند سنگ‌ها

Kehangatan sapaan-Nya telah membuat-ku begitu malu dan tak berdaya

Andai aku batu mungkin akan melunak karena kelembutan tutur-Nya

زهر به پیش او ببر تا کندش به از شکر  **  قهر به پیش او بنه تا کندش همه رضا

Meski kau datang dengan racun dosa ke hadapan-Nya, Ia ubah menjadi rasa manis

Kemarahan dan kesalmu, akan berganti kerelaan dan penerimaan

آب حیات او ببین هیچ مترس از اجل **   در دو در رضای او هیچ ملرز از قضا

Rasakan cinta-Nya yang menghidupkan hingga kau tak akan pernah takut kematian

Bergegaslah menuju jalan keridhaan kekasih, jangan menghindar dari ketentuan-Nya

سجده کنی به پیش او عزت مسجدت دهد  **   ای که تو خوار گشته‌ای زیر قدم چو بوریا

Wahai engkau yang lemah dan merasa terhina,

raihlah kemuliaan sejati dengan hanya bersujud kepada-Nya

خواندم امیر عشق را فهم بدین شود تو را   **   چونک تو رهن صورتی صورت توست ره نما

Kunamakan “cinta” ini dengan “sultan”, tahukah kau alasanya?

Tentu sulit memahaminya jika kau hanya berhenti pada gambaran zahir

از تو دل ار سفر کند با تپش جگر کند   **   بر سر پاست منتظر تا تو بگوییش بیا

Jika hati terpisah dari sang kekasih, maka jiwamu akan berkalang darah

Kau akan terbunuh dalam penantian panjang sampai kekasih memanggilmu “kemarilah

Catatan:

Puisi yang merupakan Ghazal 44 dari Divan-e Shams ini, berbicara bagaimana sebuah harapan tak mengenal pupus di hadapan-Nya. Rumi seolah berbicara kepada seluruh pembacanya di sepanjang masa, seberapa besar kesalahan dan kekhilafan yang kita lakukan, Tuhan akan tetap memeluk kita dengan kehangatan dan kasih sayangNya. 

Bagi saya, doa sendiri adalah ungkapan terdalam seorang hamba kepada Tuhannya, apalagi jika doa itu diungkapkan oleh penyair sufistik yang tidak hanya memiliki kefasihan bahasa, tapi juga kedalaman makna. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *