Senin, Oktober 18

Resensi Buku Ngaji Rumi oleh Zuhairi Misrawi

Sejujurnya, saat membaca buku ini hingga khatam, energi positif menyeruak dalam relung jiwa yang terdalam. Hidup ini indah asalkan disertai dengan cinta. Itulah kira-kira pesan utama yang hendak disampaikan buku ini.

Saya termasuk kolektor karya-karya Jalaluddin Rumi dalam berbagai bahasa, Arab dan Inggris. Namun, saya sangat sulit untuk memahami Rumi, karena pesan-pesannya yang membutuhkan kejernihan dan kebeningan jiwa untuk memahaminya. Afifah Ahmad dalam buku ini berhasil menjelaskan gagasan Rumi yang dikenal susah itu menjadi renyah, sehingga kita dapat memahami puisi-puisi Rumi secara utuh. Inilah kelebihan utama dari buku yang ditulis oleh aktivis Gus Durian yang sekarang tinggal di Teheran ini.

Di tengah hiruk-pikuk nalar fikih yang cenderung hitam-putih, saatnya kita “hijrah” ke nalar tasawuf yang membentangkan jalan cinta. Sudah berabad-abad, fikih membawa kita pada faksi dan friksi, sehingga menjadikan umat ini dalam kamar-kamar mazhab yang nirpersaudaraan. Nah, sufisme ala Rumi menurut saya merupakan salah satu terobosan agar agama dipahami sebagai mata air cinta. Coba simak salah satu bait puisi Rumi tentang cinta:

Karena cinta, pahit menjadi manis

Karena cinta, tembaga menjadi emas

Karena cinta, keruh berganti jernih

Karena cinta, derita berganti bahagia

Karena cinta, mampu hidupkan yang tiada

Karena cinta, raja rela menjadi hamba sahaya

Kita sungguh merindukan beragama atas dasar cinta. Dalam beberapa tahun terakhir, kita getol menarasikan moderasi beragama. Dalam pandangan saya, moderasi beragama pada hakikatnya adalah membumikan cinta. Apalah artinya mengaku beragama jika tidak berlandaskan cinta. 

Dalam konteks tersebut, saya ingin sekali karya yang ditulis Afifah Ahmad ini dapat menjadi buku wajib di sekolah, kampus, dan pesantren, sehingga anak-anak kita makin mudah mengakses pandangan keagamaan yang toleran dan moderat. 

Atas dasar itu pula, saya selalu optimis, bahwa wacana keagamaan kita di masa mendatang akan selalu cerah, karena setiap zaman selalu lahir karya anak muda yang mencerahkan dan mencerdaskan nalar keagamaan kita di tengah kuatnya arus hoak sekalipun. 

Sumber: https://www.ponpesalikhlaspatikota.com/2021/06/moderasi-beragama-ala-rumi-membumikan.html?m=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *