Senin, September 26

Ngaji Rumi: Pesan Nabi tentang Jalan Kesunyian

Foto: Lukisan Farshichian

Dalam sebuah seminar bertema ”Sastra Sufistik” di UIN Bandung, saya pernah menjelaskan, salah satu yang membuat puisi Rumi abadi karena terinspirasi dari kitab-kitab langit, termasuk hadis Nabi. Ada begitu banyak sabda Nabi yang dikutip Rumi dengan beragam metode penyampaian, baik kutipan langsung redaksi hadis maupun kandungan maknanya. Ciri puisi Rumi yang mengutip sabda Nabi, biasanya dimulai dengan kalimat گفت پیغامبر atau Nabi bersabda.

Salah satu kutipan hadis dalam puisi Rumi yang menurut saya menarik, ada dalam bait ke 823-827 jilid 5 kitab Matsnawi Maknawi. Di sana Rumi mengulang serta memberikan penjelasan tentang pesan Nabi untuk menyayangi dan menemani tiga tipe kelompok. Siapa saja mereka? 

گفت پیغامبر که رحم آرید بر

جان من کان غنیا فافتقر

والذی کان عزیزا فاحتقر

او صفیا عالما بین المضر

گفت پیغامبر که با این سه گروه

رحم آرید ار ز سنگید و ز کوه

آنک او بعد از رئیسی خوار شد

وآن توانگر هم که بیدینار شد

وآن سوم آن عالمی که اندر جهان

مبتلی گردد میان ابلهان

Nabi bersabda, sekeras apapun hatimu

Sayangilah tiga kelompok ini

Pertama, pemimpin yang sudah tidak lagi menjabat

Kedua, orang kaya yang jatuh miskin

Ketiga, orang alim yang tidak dihargai keilmuannya (berada di tengah orang-orang jahil)

(Rumi, Matsnawi, jilid 5 bait 823-827)

Pada dua bait pertama, Rumi menyadur hadis tersebut dalam versi Arab, lalu paragraf selanjutanya ia menerjemahkan ke dalam bahasa Persia. Dengan melakukan pengulangan dua bahasa ini, Rumi seolah ingin menekankan pesan penting yang ada dalam bait-bait tersebut. Sebelum mengulas kandungannya, ada baiknya berkenalan terlebih dahulu dengan redaksi asli hadis ini.

Dalam hal ini, kitab Ahadits Matsnawi, memberikan banyak petunjuk kepada kita. Di sana, selain dituliskan teks asli hadis ini, juga disebutkan beberapa kitab yang memuat hadis tersebut, di antaranya اللآلئ المصنوعة في الأحاديث الموضوعة kitab hadis karya Jalaluddin as-Suyuthi, kitab إتحاف السادة المتقين syarah Ihya Ulumuddin, juga terdapat dalam syarah Nahjul Balaghah dengan sedikit perbedaan redaksi.   

Begini redaksi hadis yang dimuat di kitab Ahadits Matsnawi:

ارحموا ثلاثة؛ غنی قوم افتقر، و عزیز قوم ذلّ، و عالما یلعب به الحمقی و الجهّال

Meskipun pesan ini disampaikan berabad lalu, tapi rasanya masih sangat relate dengan konteks sosial hari ini. Secara umum, manusia memang cenderung nyaman berada dalam social circle yang mapan, baik secara ekonomi maupun sosial. Orang yang baru memperoleh kesuksesan atau baru menjabat akan banyak yang mengelilinginya, tapi begitu turun jabatan atau jatuh miskin, tidak sedikit yang akan meninggalkannya. 

Rumi mengajak kita untuk berpikir ‘Out of The Box, kalau selama ini kita berpikir jika ingin sukses dekatilah orang-orang sukses dan berada di lingkaran kekuasaan, tapi jalan sukses juga bisa digali dari pengalaman-pengalaman pahit orang di sekitar kita. Pesan tersirat dalam puisi ini juga mengajak kita untuk belajar mencintai seseorang tanpa syarat dalam kondisi dan situasi apapun, baik mereka yang menguntungkan kita maupun yang tidak. 

Pesan yang lebih dalam lagi dalam puisi ini barangkali mengajarkan kita tentang ‘jalan kesunyian’, terutama jika melihat tipe kelompok ketiga, orang alim yang tidak dimanfaatkan keilmuannya. Biasanya mereka adalah sosok terasing di tengah masyarakat dan memiliki kesabaran tinggi menghadapi situasi yang tidak diinginkan. 

Rumi dalam banyak puisi lainnya memang acap kali menganjurkan kita untuk berani menempuh jalan kesunyian, meskipun jalan itu tak mudah tapi membantu kita untuk melatih ketajaman intuisi dan kematangan spiritual. (Afi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *