
Selama ini Rumi kerap dibaca sebagai penyair cinta ilahi dan pengalaman mistik personal. Namun pembacaan yang lebih cermat atas Masnawi memperlihatkan sisi lain yang tak banyak diketahui yang membuktikan bahwa Rumi adalah seorang sufi progresif. Sosok yang peka terhadap persoalan sosial dan berani melontarkan kritik tajam terhadap kekuasaan yang menyimpang. Ia tidak memisahkan jalan spiritual dari tanggung jawab sosial.
Kezaliman: Menggali Lubang bagi Diri Sendiri
Rumi memulai kritiknya dengan metafora yang sederhana namun menghantam: kezaliman menciptakan kegelapan. Ia menegaskan bahwa penindasan bukanlah kemenangan, melainkan proses menghancurkan diri sendiri secara perlahan.
«چاه مظلم گشت ظلم ظالمان
اين جنين گفتند جمله عالمان
هركه ظالم تر چهش يا هول تر
عدل فرمودست بدتر را بتر
اى كه تو از ظلم چاهى مى كنى
از براى خويش دامى مى كنى
كرد خود چون كرم، بيله برمتن
بهر خود چه مى كنى اندازه كن»
Karena kezaliman para penindas, dunia pun menjadi gelap.
Beginilah pesan yang disampaikan para bijak.
Siapa yang semakin zalim, lubang yang ia gali akan semakin semakin mengerikan.
Namun keadilan akan bersuara lantang: yang lebih buruk akan mendapat balasan setimpal.
Wahai yang dengan kezaliman sedang menggali lubang,
sesungguhnya engkau sedang menyiapkan jerat bagi dirimu sendiri.
Engkau seperti ulat yang membungkus dirinya dengan kepompongnya sendiri
Renungkan baik-baik, ke mana engkau akan terkurung.
(Rumi, Masnawi jilid 1, bait 1309–1312)
Melalui metafora ini, Rumi memperlihatkan ironi kekuasaan zalim: penguasa merasa sedang membangun kejayaan, padahal yang ia bangun adalah penjara bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya kezaliman akan menelan ‘biaya mahal’ yang tidak hanya ditanggung pelaku, tetapi juga rakyat yang terjebak dalam kegelapan sistemik.
Ketika Kekuasaan di Tangan yang Salah
Kritik Rumi semakin tajam ketika ia menyinggung soal paling menentukan dalam kehidupan publik: siapa yang memegang kendali. Ketika kekuasaan jatuh ke tangan orang yang keliru, kehormatan runtuh, arah hilang, dan dunia ikut terbakar.
«حكم چون در دست كم راهى فتاد
جاه بنداريد در جاهى فتاد
ره نمى دائد قلا ووزى كند
جان زشت او جهان سوزى كند…
احمقان سرور شدستند وزبيم
عاقلان سرها كشيده در كليم»
Ketika kekuasaan jatuh ke tangan orang yang keliru,
jangan heran jika kehormatan pun ikut jatuh bersamanya.
Ia tak tahu arah dan hanya bergerak serampangan,
jiwanya yang rusak membuat dunia ikut terbakar.
Orang-orang bodoh justru tampil sebagai pemimpin karena ketakutan,
sementara para bijak memilih menundukkan kepala, menyingkir dalam diam.
(Rumi, Masnawi, jilid 4, bait: 1447, 1448, 1452)
Bait ini terasa sangat relevan hari ini. Ketika ketakutan dan kebisingan menguasai ruang publik, kebijaksanaan justru tersingkir. Yang lantang dianggap layak memimpin, sementara yang jernih memilih diam demi keselamatan. Inilah awal kehancuran sosial yang digambarkan Rumi.
Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani
Rumi tidak hanya mengkritik penguasa, tetapi juga menunjukkan siapa yang pertama kali menjadi korban sistem yang rusak: mereka yang jujur, arif, dan membawa nurani.
«چون كه حكم اندر كف رندان بود
لاجرم ذو النون در زندان بود…
چون قلم در دست غدّارى بود
بى گمان منصور بردارى بود
چون سفيهان راست اين كار وكيا
لازم آمد يقتلون الانبيا…
يوسفان از مكر اخوان در چه اند
كز حسد يوسف به گركان مى دهند»
Ketika kekuasaan berada di tangan orang-orang licik,
tak heran jika Dzu al-Nun pun harus mendekam dalam penjara.
Saat pena dipegang oleh para pengkhianat,
jangan heran bila Mansur berakhir di tiang gantungan.
Ketika urusan dan kuasa jatuh ke tangan orang-orang bodoh,
maka pembunuhan para nabi pun dianggap wajar.
Banyak Yusuf terperosok dalam sumur karena tipu daya saudara-saudara yang iri,
yang menyerahkan Yusuf kepada para serigala karena dengki.
(Rumi, Masnawi, jilid 2, bait: 1393, 1398, 1399, 1406)
Di sini Rumi membongkar mekanisme sosial kekuasaan zalim: kebenaran dibungkam, kebijaksanaan dipenjara, dan kesucian disingkirkan. Sebelum lubang kezaliman menelan sang penguasa, ia lebih dulu menelan Yusuf-Yusuf, yang seharusnya menjadi cahaya bagi masyarakat.
Harapan Perubahan: Kolam yang Jernih
Namun Rumi bukan hanya penyair kecaman; ia juga menawarkan arah perbaikan. Dalam perumpamaan “kolam dan pipa”, Rumi menunjukkan bahwa keadaan rakyat sangat bergantung pada kualitas pusat kekuasaan. Pandangan ini nampaknya terinspirasi dari Al-Ghazali yang dituangkan dalam bulu Nasihat al-Muluk. Rumi dalam kitab Masnawi bersenandung:
«خوى شاهان در رعيت جاكنه
چرخ اخضر خاى را خضرا كند
شه چو حوضى دان وهر سو لوله ها
آب از لوله روان در گوله ها
چون كه آب جمله از حوضى است باك
هريكى أبى دهد خوش ذوق ناى
ور در آن حوض آب شور است و بليد
هريكى لوله همان آرد پديد
زان كه بيوسته ست هر لوله به حوض
خوض كن در معنى اين حرف، خوض »
Sifat seorang raja akan terserap dalam diri rakyatnya,
bahkan arah hidup sebuah negeri bisa berubah karenanya.
Raja laksana sebuah kolam, dan rakyatnya seperti pipa-pipa yang menjulur ke segala arah.
Air yang mengalir melalui pipa-pipa itu berasal dari satu kolam yang sama.
Jika air di kolam itu jernih, setiap pipa akan mengalirkan air yang segar dan menyejukkan.
Namun jika airnya asin dan keruh, setiap pipa pun hanya akan menyalurkan hal yang sama.
Karena setiap pipa selalu terhubung dengan kolamnya,
renungkan sungguh-sungguh makna perumpamaan ini.
(Rumi, Masnawi, jilid 1, bait: 2820–2824)
Di sinilah letak harapan Rumi, bila pemimpin berani membersihkan “kolam” dirinya, dengan memperbaiki niat, akhlak, kebijakan, dan cara komunikasi dengan rakyatnya, maka perubahan akan mengalir ke seluruh negeri. Kepercayaan rakyat tidak lahir dari pidato, melainkan dari niat yang benar-benar tulus yang tercermin dalam kebijakan dan tindakan.
Harapan itu Masih Ada
Pesan Rumi untuk zaman kita terasa terang dan mendesak. Kekuasaan yang zalim sedang menggali lubang yang pada akhirnya menelan semua, baik penguasa itu maupun rakyat. Kebodohan yang diberi panggung membakar segala asset yang kita miliki. Tetapi jalan kembali selalu ada: membersihkan kolam kepemimpinan sebelum kegelapan menjadi tak terpulihkan. Rumi seolah mengingatkan kita, berhentilah menggali lubang kezaliman, hentikan pembungkaman nurani, dan jangan serahkan Yusuf kepada serigala. Sebab ketika pusat kekuasaan jernih, yang mengalir ke seluruh negeri bukan hanya kebijakan, melainkan harapan.
