Jumat, Februari 3

Menyoal Pola Pikir Kan’an

‏Alhamdulillah, Jumat ini saya masih diberikan kesempatan untuk bisa menerjemahkan salah satu penggalan puisi Rumi dalam buku Matsnawi jilid keempat. Puisi yang cukup panjang dan saya coba memilih diksi yang mudah sehingga teman-teman bisa langsung memahami. Saya hanya memberikan sedikit catatan saja dengan merujuk pada kitab Tafsir Matsnawi Karim Zamani yang saya baca. Tapi, teman-teman juga boleh mengabaikan catatan tersebut dan silahkan memahami dengan cara yang 

berbeda.

————

Begini junjungan kita Nabi Muhammad pernah bersabda

Aku ibarat bahtera penyelamat dalam samudra kehidupan 

Begitu juga orang-orang yang memperoleh makrifatku

Mereka dapat menjadi penyelamat sebagai wakilku

Dalam lautan bergelombang, kami seperti perahu Nuh

Wahai pemuda, jangan berpaling dari bahtera penyuluh

Jangan seperti Kan’an (putra Nabi Nuh) yang berlindung ke setiap gunung

Renungkan bagaimana Quran berfirman: “Hari ini tak ada yang dapat menyelamatkanmu”

Karena tirai yang menutup mata batinnya 

Ia kira perahu lebih rendah dari gundukan pengetahuannya

Jangan menilai perahu keselamatan dengan pandanganmu yang sempit

Tapi perhatikan bagaimana kemuliaan Ilahi yang menjaga perahu ini

Jangan tertipu oleh ketinggian pikirmu

Ia bisa saja sirna dihempas gelombang keraguanmu

Jika engkau memiliki pola pikir seperti Kan’an

Tak kan berarti ratusan nasihat yang kusampaikan

Telinga Kan’an yang telah tertutup rapat

Mana mungkin bisa menerima nasihat

Bagaimana mungkin petunjuk itu akan datang ketika hati telah tertutup

Karena sesuatu yang telah terpatri akan sulit menerima hal yang baru

Tapi tentu harapanku, engkau bukanlah Kan’an

Hingga bisa kusampaikan pesan yang menyegarkan

Akhirnya kau akan mengakui kebenaran ini

Maka renungkanlah perjalanan akhirmu mulai kini

Engkau memiliki cara pandang yang lebih panjang

Maka jangan butakan kemampuanmu menyongsong masa depan

Siapa saja yang mampu membaca masa depan

Ia akan bahagia dan tak banyak melakukan kesalahan

Jika tidak ingin setiap saat terjatuh

Kepada bijak bestari (insan kamil) mintalah petunjuk

Engkau yang selalu berpegang pada wali kamil

Akan mampu menundukkan nafsu kedirian

Karena dengan berlindung di bawah naungan insan kamil

Kekuatan sebuah jarum dapat menjadi sebilah pedang Dzulfiqar

Maka jangan berpaling dari pandangan insan kamil

Agar tiraimu terbakar dan mata batinmu terbuka 

Mata unta begitu tajam dan kuat

Karena banyak bertemu duri dan onak

(Matsnawi, jilid 4, bait 3358-3376)

Catatan: 

Pertama, Kata Rumi, yang membuat Kan’an jauh tersesat, karena ia menutup berbagai kemungkinan kebenaran lainnya dan hanya meyakini apa yang menurutnya benar. Ini juga yang masih menjadi problem keberagamaan kita sampai hari ini. Banyak orang yang masih meyakini kebenaran tunggal. Sementara para pengusung kebenaran tunggal itu acap kali merasa telah berada di tempat ‘paling aman’ di bandingkan yang lainnya. Sebagaimana Kan’an begitu yakin bahwa gunung dan ketinggian dapat menyelamatkannya dari air bah. 

Kedua, Rumi mengingatkan kembali, akal rasio hanya satu tool dalam fase perjalanan manusia, ada tool- lainnya yang lebih tinggi, yaitu intuisi yang dalam bahasa agama dikenal dengan wahyu. Karena itu, jangan berhenti dan mengagungkan rasionalitas semata. Karena rasionalitas dibangun dengan logika sebab akibat yang kapan saja bisa dirubuhkan, sebagaimana ombak yang kapan saja bisa menerjang gundukan pasir di pantai.

Ketiga, Rumi mengajak kita untuk belajar memahami konteks zaman. Di satu sisi, Rumi memang menyarankan untuk hidup di ‘masa kini’ dan tidak terlampau resah dengan apa yang terjadi di masa depan. Namun visi yang kita bangun tetap harus jauh ke depan. Kita tetap aware terhadap berbagai tanda-tanda yang dapat mempengaruhi keputusan kita di masa depan.

Keempat, Menurut Rumi, guru menjadi suatu kemestian dalam perjalanan pencarian seseorang. Rumi menyebutnya dengan diksi insan kamil atau waliallah yang selalu hadir di setiap masa. Di era informasi seperti sekarang ini, gundukan pengetahuan memang dapat kita kumpulkan melalui media apa pun, tapi peran guru tidak akan pernah tergantikan. Sanad yang terus bersambung dapat menyaring ilmu menjadi lebih original dan dekat dengan sumbernya. 

Kelima, Dalam bait terakhir yang merupakan juga bait kunci, Rumi meminta kita merenungkan salah satu perilaku unta. Dalam surat Al-Ghasyiyah ayat 17 Quran juga mengajak kita untuk memperhatikan penciptaan unta. Dalam bait itu, Rumi menggambarkan mata unta begitu tajam karena banyak bertemu rumput-rumput kering berduri. Begitu juga mata batin kita akan terasah kuat jika kita mampu melewati hal-hal terberat dalam hidup. 

Terima kasih sudah mampir dan membaca, Jumah Mubarak.