Senin, Juni 17

Ketika Nabi Muhammad SAW Menunjuk Pemimpin Belia

Lukisan Farshician

Alkisah, di hari-hari terakhir kehidupannya, Rasulullah mempersiapkan sebuah pasukan untuk menghadapi ancaman serangan Kekaisaran Romawi. Beliau menunjuk seorang komandan yang masih belia, berusia sekitar 18 tahun, bernama Usamah bin Zaid. Dalam barisan pasukan tersebut, hadir para prajurit dan komandan senior dari kalangan Muhajirin. Penunjukan ini sempat menimbulkan protes sebagian kaum muslimin, mereka berharap Nabi dapat menunjuk seorang komandan yang lebih berpengalaman. Rasul SAW kemudian meluruskan pandangan mereka, betapa banyak anak-anak muda yang memiliki kebijaksanaan dan  kematangan berpikir, bahkan melampaui mereka yang secara usia lebih tua. Usia bukanlah ukuran kematangan seseorang, namun yang terpenting adalah pola pikir dan kemampuan.

***

Kisah yang cukup popular di kalangan umat Islam ini diceritakan kembali oleh Maulana Rumi dalam kitab Matsnawi Maknawi jilid 4. Rumi memberikan catatan, motif mereka yang tidak setuju dengan pilihan Rasulullah SAW karena merasa tinggi hati atau takabur. Dalam berbagai syairnya, Rumi kerap mengingatkan, banyak umat terdahulu yang tergelincir karena merasa dirinya lebih baik dari yang lain. Bahkan, sifat ini pula yang membuat Iblis terlempar dari surga. Kata Rumi dalam Matsnawi jilid 5 bait 1920-1921: “Keakuan telah butakan manusia, karena sirna rasa malu dan akal. Sebagaimana ratusan tahun silam, rasa keakuan telah gelincirkan umat terdahulu”

Selain mengandung sisi personal berupa tuntunan rohani untuk menjauhi sifat tinggi hati, melalui kisah Usamah di atas, Rumi juga mencontohkan sikap Nabi dalam menghadapi transformasi kepemimpinan. Dalam sistem masyarakat klasik, pola kepemimpinan kerap kali menitikberatkan faktor senioritas. Rasulullah membuka cakrawala umatnya bahwa kepemimpinan bisa juga dipegang oleh anak-anak muda yang memang memiliki kapsitas. Sekali lagi, faktor usia bukan penentu kedewasaan berpikir dan kematangan seseorang. Memberi kesempatan kepada kalangan muda untuk mengemban sebuah amanah dapat menjadi media untuk saling belajar antar generasi.

Lebih jauh, Maulana Jalaluddin Rumi sendiri dalam salah satu syairnya, jilid 2 kitab Matsnawi bait 1217-1218 pernah menggambarkan masa muda sebagai musim semi. “Masa muda itu bagai kebun yang ranum, penghasil buah-buah segar yang harum. Ketika raga dan jiwa di puncak kejayaan, potensi diri akan mudah berkembang”. Secara tersirat syair tersebut menjelaskan bahwa kalangan muda juga perlu diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk berkiprah karena mereka menyimpan potensi besar dalam melakukan perubahan.

Ungkapan di atas bukan sekedar slogan, Rumi dalam kitab Matsnawi memberikan bukti-bukti sejarah, misalnya dengan menampilkan sosok pemuda bernama Musa AS yang meskipun secara usia masih muda, namun dapat menumbangkan kekuasaan Firaun yang memiliki pengaruh luas dan kuat. Begitu juga, Rumi menyodorkan kisah Ashabul Kahfi, para pemuda yang memiliki kematangan spiritualitas sehingga berani meninggalkan zona nyaman demi sebuah pilihan yang mereka yakini. Menurut Rumi, masih dalam kitab Matsnawi jilid 2 bait 1219, pemuda ibarat sebuah rumah megah yang memiliki atap tinggi dan pilar kukuh serta siap diisi oleh berbagai perlengkapan. Begitu juga masa muda, menyimpan lautan potensi yang siap dipenuhi dengan berbagai aktivitas.

Kembali ke cerita penunjukkan Usamah sebagai komandan, tentu Rumi menyampaikan kisah ini bukan hanya untuk bernostalgia, ada pesan penting yang ingin disampaikan. Kisah ini menggambarkan bagaimana upaya Rasulullah SAW melakukan rekonstruksi sosial di tengah masyarakat patriarki akut dengan menawarkan gagasan kesetaraan. Dalam kisah-kisah lain yang pernah saya tuliskan, Rumi menjelaskan upaya Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat madani yang adil dengan meminimalisasi kesenjangan gender, strata sosial, dan dalam kisah ini kesenjangan generasi. Karena jarak inilah yang menjadi hambatan utama tumbuhnya iklim sosial yang sehat dan produktif.

Semoga semakin banyak lagi anak-anak muda yang mendapat ruang bertumbuh dan kesempatan mengaktualisasikan dirinya di berbagai lini kehidupan. Karena keberhasilan transformasi kepimpinan, salah satunya sangat dipengaruhi oleh rasa percaya antar generasi.