Senin, Juni 17

Jangan Mendahului Takdir

Alkisah, ada salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang sadang sakit keras, Rasul lalu mengajak para sahabat lain untuk menjenguknya. Dari keterangan orang terdekat, si sakit terus mengaduh dan meraung menahan rasa sakit. Begitu mengetahui Rasul datang, ia berusaha tegar, meski tak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Rasul bertanya kepadanya: “Apakah Anda berdoa sesuatu yang menyebabkan seperti ini?” Setelah mengingat-ingat, akhirnya ia bercerita: “Setelah saya bertaubat dan menjadi pengikut Anda, saya berdoa kepada Tuhan, jika saya berbuat dosa, berilah sangsi di dunia ini agar kelak selamat di akhirat”. Nabi yang mulia kemudian memberikan nasihat kepadanya agar tidak lagi berdoa demikian. Kata Nabi “Mintalah kebaikan di dunia maupun di akhirat”.

Kisah ini disampaikan secara panjang lebar oleh Rumi dalam kitab Matsnawi jilid 2 dari bait 2141 sampai 2603 (sekitar hampir 500 bait). Seperti biasa, di sela-sela cerita, Rumi memberikan banyak catatan, misalnya pada bagian awal Rumi menjelaskan keutamaan menjenguk orang sakit. Kata Rumi, faedah menjenguk orang sakit tidak hanya memberi kebaikan untuk orang yang sakit, namun juga kembali kepada orang yang menjenguk. 

Salah satu alasannya barangkali karena orang yang sedang sakit atau tertimpa musibah, biasanya memiliki ruh lembut dan jernih yang mudah terkoneksi dengan langit. Sehingga bisa mempengaruhi juga kondisi spiritualitas orang yang berada di sekitarnya. Apalagi jika orang yang kita jenguk merasa bahagia dan mendoakannya. Untuk melengkapi penjelasan ini, Rumi mengutip potongan dialog Tuhan dengan Nabi Musa AS. 

Suatu waktu, Tuhan bertanya kepada Nabi Musa: “Mengapa tidak menjenguk-ku ketika aku sakit?”. Tentu saja Nabi Musa terkejut dengan pertanyaan ini. Ia balik bertanya: “Apakah rahasia di balik firman-Mu ini wahai Tuhanku, karena sesungguhnya Engkau tersucikan dari hal-hal demikian?” Lalu Tuhan menjelaskan bahwa ada hamba yang dicintainya yang sedang sakit dan Nabi Musa tidak datang menjenguknya. Dalam hal ini, Rumi meyakini bahwa rahmat dan kasih sayang Tuhan akan hadir bersama mereka yang sedang dalam kedukaan. Kalimat sejenis sudah sering didengungkan Rumi dalam syair-styairnya. 

Namun, sesungguhnya bagian terpenting dalam cerita ini adalah pesan Rasulullah untuk meminta keselamatan serta kebaikan, di dunia maupun akhirat. Tidak mengharapkan sesuatu di luar kehendak dan ketentuan Tuhan, seperti kisah sahabat yang menginginkan sangsi berupa ketidaknyamanan di dunia agar kelak selamat di akhirat.

Secara sepintas terlihat adanya paradoks dalam kisah ini, di satu sisi kita memahami bahwa rasa sakit adalah salah satu jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, di sisi lain kita seolah tidak diperbolehkan untuk meminta hadirnya rasa sakit itu. Kalau dicerna lebih jauh, sebenarnya poin pesan Nabi ini bukan pada menghindari luka, tapi bagaimana seorang hamba tetap berbaik sangka dan tidak melampaui takdirnya. 

Dalam hal ini, Rumi juga sedang menyelipkan salah satu ajaran penting tasawuf, yaitu tidak menilai amal perbuatan dari sudut pandang pahala dan dosa semata. Karena kalau pendekatan matematis seperti itu berlaku, satu dosa yang dilakukan seorang hamba belum tentu terbayar oleh seluruh penderitaanya di dunia. Maka, dalam banyak syairnya Rumi selalu mengajak pembacanya untuk mengubah mindset motivasi berbuat baik hanya karena mengharapkan kerelaan dan keluasan rahmat Allah SWT. 

Tentang doa keselamatan, saya jadi teringat doa sapu jagat yang biasa kita baca di akhir shalat dan di berbagai kesempatan, ternyata mengandung makna yang begitu dalam, betapa pun dosa dan kesalahan yang diperbuat, kita percaya rahmat Tuhan akan tetap membersamai di dunia maupun di akhirat. 

Ketika kita telah memohon keselamatan, ternyata akhirnya mendapat ujian berupa musibah, sakit, atau segala ketidaknyamanan. Di sinilah saatnya kita memaknai takdirnya, seraya memahamkan kepada diri bahwa ujian ini sebentuk panggilan kasih sayang-Nya agar kita semakin mendekat, juga memohon untuk dimampukan melewatinya dengan baik. 

Di posisi apa pun teman-teman saat ini, semoga tetap bisa sama-sama belajar untuk berprasangka baik dengan segala rencana-Nya, amiiin. Jumaat Mubarak ya…